Semalam, Pak RT menggelar kenduri yang, menurut ukuran kampung, sudah lebih dari cukup untuk disebut khidmat. Undangan disebar rapi, doa dipersiapkan matang, dan berkat ditata dengan penuh harap dalam besek bambu. Semua berjalan sesuai pakem: sederhana, tertib, dan sarat niat baik. Kenduri, seperti biasa, dimaksudkan sebagai penanda kebersamaan dan harapan akan keberkahan yang bisa dibagi rata.
Hanya saja, tradisi hampir selalu punya jarak dengan realitas. Dari sekian warga yang diundang, sebagian memilih tak menampakkan diri. Alasannya tak pernah benar-benar jelas. Bisa karena sibuk, bisa karena lupa, atau mungkin karena merasa kehadirannya tak terlalu berpengaruh pada langit yang akan mengamini doa.
Pak RT, yang sudah lama kenyang pengalaman menghadapi dinamika warganya, memilih tak larut dalam kekecewaan. Baginya, berkat yang disiapkan dengan doa tak pantas berakhir basi. Ia pun mengambil keputusan praktis: berkat yang tersisa dibagikan kepada warga yang tak sempat hadir. Amanat itu disampaikan singkat, tanpa catatan teknis yang terlalu rinci.
Masalahnya, waktu sudah jauh malam. Rumah-rumah gelap, pintu tertutup rapat, dan sebagian warga mungkin sudah terlelap dalam tidur yang tak ingin diganggu urusan kenduri. Membagikan berkat satu per satu terdengar ideal, tetapi berpotensi menimbulkan keributan baru. Tidak semua orang senang dibangunkan atas nama kebaikan.
Di situlah sang hansip mulai bernegosiasi dengan akal sehatnya sendiri. Ia memilih berjaga di pos ronda, ditemani kopi pahit dan kesadaran bahwa nasi dalam besek punya batas kesabaran. Waktu, malam, dan cuaca adalah faktor-faktor yang tak tercantum dalam amanat, tetapi nyata di lapangan.
Setiap orang yang melintas malam itu pun mendapat bagian. Tak ada pertanyaan asal-usul, tak ada pengecekan domisili, apalagi verifikasi status sosial. Pengendara, pejalan kaki, bahkan ronda dari kampung sebelah diperlakukan setara. Dalam gelap malam, semua orang tampak sama-sama manusia, dan mungkin sama-sama lapar.
Bagi sang hansip, amanat Pak RT bukanlah daftar nama, melainkan tujuan. Selama berkat itu dimakan dan tidak berakhir di tempat sampah, kenduri telah menjalankan fungsinya. Ia percaya, niat baik tak selalu membutuhkan jalur distribusi yang sempurna.
Menariknya, kebaikan kerap berbalas dengan cara yang tak tercatat dalam laporan resmi. Dari beberapa penerima, ada yang menyelipkan lintingan tembakau. Katanya, sekadar teman begadang. Bukan imbalan, apalagi sogokan—hanya solidaritas kecil yang lahir tanpa rapat dan tanpa berita acara.
Seorang penerima bahkan mengaku membatalkan niat membeli nasi goreng. Malam itu, kebutuhannya terpenuhi tanpa transaksi tambahan. Sebuah efisiensi ekonomi yang tak pernah masuk perhitungan, tetapi nyata dirasakan.
Menjelang subuh, sang hansip pulang dengan hati ringan. Tak ada besek tersisa, tak ada nasi basi, dan tak ada niat yang ia rasa diselewengkan. Ia yakin telah menjalankan amanat sebaik mungkin, sesuai kondisi yang ada, bukan kondisi yang dibayangkan.
Pagi harinya, kampung mendadak riuh. Kabar beredar cepat, lebih cepat dari sisa aroma kenduri. Hansip dituding tak amanah. Berkat, kata sebagian warga, seharusnya hanya dibagikan kepada mereka yang terdaftar sebagai penerima sah, bukan kepada orang-orang yang dianggap “bukan siapa-siapa”.
Penilaian pun datang dari kejauhan, dengan cahaya matahari yang terang tetapi ingatan yang selektif. Jam malam, rumah-rumah gelap, dan ancaman basi perlahan dikesampingkan. Yang dipersoalkan tinggal prosedur, seolah prosedur selalu lebih suci daripada tujuan.
Padahal sejak awal, maksud Pak RT cukup jelas. Berkat harus bermanfaat dan tidak terbuang. Amanat itu berbicara tentang hasil, bukan sekadar rute. Namun seperti biasa, tafsir kerap lebih ramai daripada niat.
Kisah kenduri ini barangkali tak berhenti sebagai cerita kampung. Ia mencerminkan bagaimana kebijakan sering lahir dari niat baik, dijalankan dalam keterbatasan, lalu diadili dengan standar yang muncul belakangan. Keputusan diambil di malam hari, tetapi vonisnya dijatuhkan di pagi yang nyaman.
Maka mungkin yang perlu direnungkan bukan siapa menerima berkat, melainkan apakah berkat itu benar-benar memberi manfaat. Sebab dalam urusan bersama, seperti kenduri semalam, yang paling cepat basi bukanlah nasi di dalam besek, melainkan prasangka yang enggan memahami konteks.