Sudah berapa puluh ribu kali notifikasi panggilan untuk salat yang kita dengar setiap harinya? Coba dihitung sendiri, satu tahun dikalikan lima kali, lalu dikalikan lagi usiamu saat ini. Dari puluhan ribu itu, perubahan apakah setelah kita melaksanakannya?
Sebagai ibadah, salat adalah pengingat. Pertama, kita membutuhkan kekuatan besar, sebagai sandaran, untuk membimbing segala sesuatu yang kita jalani. Artinya, bahwa hidup kita di dunia ini tak lain seperti kita pergi ke suatu tempat, lalu kita transit sejenak di tempat itu, tidak lama. Salat sebagai bekal yang nanti akan kita bawa di kehidupan yang abadi, akhirat.
Kedua, salat sebagaimana sabda nabi, adalah amal ibadah yang pertama kali dihisab, sebagai bentuk pertanggungjawaban umat Islam terhadap perintah yang disampaikan Allah secara langsung saat peristiwa Isra’ Mi’raj. Sejauh manakah kita menjalaninya? Makanya dalam Islam, salat menempati urutan nomor dua dalam rukun Islam, setelah syahadat.
Saya khawatir, jika suatu saat nanti kalau yang ditanyakan itu bukan perihal saya sudah menjalankan ibadah salat lima waktu. Namun, yang dihisab itu adalah: dampak atau amal kebaikan apa yang sudah saya kerjakan seusai menjalankan ibadah wajib ini dalam setiap harinya.
Dulu, ketika masih remaja, orang tua seringkali mengingatkan, menjadi alarm setiap saat: wis solat durung? Nik durung, solat o ndisik. Ojo ditinggal solate.” Pertanyaan yang selalu diulang-ulang hampir tiap hari, tetapi tidak pernah membuat jenuh bagi yang mengingatkannya.
Seringkali orang tua memutar kembali memorinya semasa waktu muda: “biyen bapak malah digebuk simbah nek durung solat”. Pernyataan itu diucapkan dengan bangganya. “Solat iku ojo diende-ende, urusan dunyo ora ana entek e. Sangu akhirat luweh penting.” Kalimat itu juga sampai sekarang masih nempel di gendang telinga.
Guru saya pun sama, dalam mengingatkan santrinya ketika sowan, bila terjadi kegalauan, pasti diantara pertanyaannya: “solat mu piye? Ibadahmu piye? Dibeneri ndisik”. Seakan-akan beliau ingin menegaskan bahwa permasalahan hidup kita itu kuncinya ada pada cara kita beribadah (membangun hubungan vertikal dengan Tuhan).
Bagi guru saya, hal itu tidak bisa ditawar lagi. Makanya dalam Islam, sebagaimana yang diajarkan nabi, selain salat lima waktu. Ada salat-salat sunnah yang lainnya. Seperti Dhuha, Tahajud, Witir, Hajat, Tasbih, dan Qobliah-Ba’diyah. Hal itu menunjukkan bahwa hubungan kita kepada Allah tidak sekadar kewajiban namun kebutuhan hati, semacam charger spiritual. Lalu bagaimana dengan praktiknya?
Sulitnya Salat Khusyu’
Sudah menjadi kebiasaan, sulit sekali rasanya untuk salat khusyu’. Pasti ada saja pikiran yang melayang-layang di waktu salat. Termasuk hal ihwal perkara duniawi. Mungkin bisa dihitung dengan jari dari sekian salat yang kita jalani itu berapa persen yang benar-benar khusyu’? Ya, memang tidak mudah untuk mencapai level itu, namun bisa kita usahakan.
Seperti saat ini. Di tengah menunaikan ibadah salat, pikiran saya tiba-tiba melayang kepada peristiwa yang belakangan ini terjadi: Iran diserang AS-Israel, yang kemudian membuat pemimpin spiritualnya Ali Khamenei wafat. Negara Persia itu memiliki dignity terhadap agama dan negaranya begitu kuat. Satu-satunya negara Islam yang secara terang-terangan menolak imperialisme Barat-Amerika di antara negara mayoritas Islam. Serta dukungannya kepada kemerdekaan Palestina. Hal itu menjadi alasan mengapa AS-Israel menyerangnya dengan dalih kepemilikan senjata nuklir yang hingga saat ini tidak terbukti.
Kok tiba-tiba sampai situ? Ya, begitulah yang saya alami waktu salat. Seringkali tidak khusyu’, tidak fokus, bahkan tak jarang lupa, ini sudah raka’at berapa.
Sebab itu, penting sebelum melaksanakan salat kita sudah siap lahir batin, fokus membangun komunikasi dengan Tuhan. Makanya, sebelum salat kita harus berwudlu, karena menjadi syarat sahnya. Hal itu sebagai simbol, bahwa kita harus mensucikan diri secara jasmani, untuk menuju ke dalam sisi rohani.
Lalu, sebelum salat, kumandang takbir dan iqamah dilafadzkan, yang mengingatkan manusia bahwa kita itu tidak punya daya upaya apa-apa, segala daya kekuatan yang kita punyai saat ini adalah titipan, yang suatu saat nanti akan diminta kembali. Dari sini, level kita dalam posisi (jabatan) dunia semuanya setara, kesombongan sejatinya runtuh, karena ada Allahhu Akbar yang Maha segalanya.
Sudah Salat Tapi Lalai, Bagaimana yang Belum?
Andaikan salat tidak menjadi kewajiban, apakah kita masih menjalankannya? acapkali kita mendengarkan ceramah dari para da’i atau ustaz, termasuk yang sering saya dengar, kalau salat itu adalah kebutuhan sepertihalnya minum dan makan. Pertanyaannya kenapa masih banyak yang meninggalkannya? bahkan mengqadla'nya dengan berbagai alasan.
Al-Qur’an menyatakan bahwa salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar (Surat al-Ankabut: 45). Pertanyaannya, mengapa di negeri mayoritas Islam ini masih banyak kemungkaran, korupsi salah satunya. Yang kebanyakan dilakukan oleh umat Islam, secara sebagai mayoritas di negeri ini. Dari percetakan al-Qur’an hingga ibadah haji. Simbol-simbol yang suci itu tak lepas dari jeratan perilaku keji.
Hal itulah yang menjadikan pertanyaannya: jangan-jangan salat kita masih sebatas angka, formalitas, belum membentuk kesadaran jiwa. Jangan-jangan salat kita yang penting cepat selesai, namun tidak memahami apa yang dibaca. Bahkan kita sering lepas dari renungan siapa yang sedang kita hadapi saat kita berdiri, dari takbir hingga salam.
Saya jadi takut dengan firman Allah yang ada pada surat Al-Ma’un 4-5: “Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai dari salatnya.” Wal’iyadzubillah, Allahhul musta’an.