Panglima Angkatan Darat Pakistan telah bertemu dengan pejabat Iran di Teheran pada hari Kamis (16/4) waktu setempat, dalam upaya untuk memperpanjang gencatan senjata terpisah antara Israel, AS, dan Iran.
Ketidakpastian masih menyelimuti apakah diplomasi yang gencar ini dapat menghasilkan kesepakatan. Sementara itu, mengutip kantor berita Associated Press (AP), putaran kedua pembicaraan AS-Iran belum dijadwalkan, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan.
Juru bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, kepada Alif.id menyatakan Indonesia mendukung setiap upaya rintisan jalan dalam dan penghentian perang, termasuk yang ditempuh oleh Pakistan.
“Indonesia menyambut baik semua upaya diplomasi. Jadi siapapun yang mengupayakan berbagai jalan menuju damai tentunya sangat kita apresiasi, termasuk Pakistan,” ujar Yvonne di Jakarta, Kamis.
Di sisi lain, Pakistan juga mendapatkan keuntungan jika diplomasi itu berhasil. Pengamat hubungan internasional, Dinna Prapto Raharja, mengatakan bahwa apa yang dilakukan Pakistan mengacu pada pasal 45 Konvensi Wina 1961. Isi pasal ini menyebutkan bahwa jika ada hubungan diplomatik yang putus, maka negara tersebut boleh mempercayakan urusan konsuler dan hubungan diplomatik kepada negara yang dipercaya.
“Selama lebih 20 tahun, Kedutaan Besar Pakistan di Washington, D.C, menjadi tempat urusan kekonsuleran Iran di AS. Pakistan sekaligus berperan sebagai jembatan komunikasi serta akses administratif Amerika Utara dengan Iran,” ungkap Dinna melalui akun youtube “Dinna on Diplomacy”.
AS-Lebanon Sepakati Gencatan Senjata 10 Hari
Pada waktu yang bersamaan, gencatan senjata selama 10 hari diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan ini disetujui oleh Lebanon dan Israel dan dimulai pada Kamis (16/4) tengah malam waktu setempat. Pemerintah Israel dan Lebanon menyetujui gencatan senjata tersebut usai perang selama lebih dari satu bulan, antara Israel dan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran. Hampir 2.200 orang di Lebanon tewas akibat serangan udara Israel.
Dalam pernyataannya, Hezbollah mengatakan “setiap gencatan senjata harus mencakup seluruh wilayah Lebanon dan tidak boleh memberikan kebebasan bergerak kepada musuh Israel.”
Israel telah melancarkan invasi darat di selatan Lebanon, yang menurut Netanyahu akan terus diduduki Israel selama gencatan senjata. Hezbollah menyatakan bahwa pendudukan Israel yang berlanjut memberikan Lebanon hak untuk melawan.
Trump juga mengatakan ia mengundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun ke Gedung Putih untuk pembicaraan langsung pertama antara para pemimpin tersebut dalam lebih dari 30 tahun. Aoun sebelumnya menolak berbicara dengan Netanyahu beberapa jam sebelumnya.
Duta Besar Israel dan Lebanon untuk AS mengadakan pembicaraan diplomatik langsung pertama dalam puluhan tahun pada awal pekan ini.
Sekretariat Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) turut menyambut baik pengumuman Trump, bahwa gencatan senjata telah tercapai di Lebanon.
Dalam rilis yang diterima Alif.id pada Jumat (16/4), Sekretariat Jenderal OKI mengatakan mereka menghargai semua upaya diplomatik yang dilakukan untuk mencapai kesepakatan ini.
OKI menekankan pentingnya bagi semua pihak untuk mematuhi kesepakatan tersebut dan tidak melemahkannya. Sekretariat Jenderal juga menyatakan dukungan dan solidaritas kepada Republik Lebanon dalam menjaga persatuan, kedaulatan, dan keutuhan wilayahnya.