Dalam dunia Jujutsu Kaisen, manusia hidup berdampingan dengan sesuatu yang tak selalu mereka sadari: kutukan. Kutukan tidak datang dari ruang asing yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan manusia. Ia justru lahir dari sisi paling manusiawi ketakutan, kebencian, kesedihan, kecemasan, dan trauma yang gagal dipahami. Emosi-emosi negatif itu tidak menguap begitu saja, melainkan menumpuk, mengeras, lalu menjelma makhluk kutukan yang mengancam kehidupan manusia sendiri.
Logika dunia Jujutsu Kaisen sederhana sekaligus mengganggu: selama manusia hidup dengan emosi negatif yang tak terselesaikan, kutukan akan selalu ada. Tidak peduli seberapa maju peradaban, selama manusia gagal berdamai dengan dirinya sendiri, dunia akan terus melahirkan monster-monster baru. Kutukan bukan penyimpangan dari kemanusiaan, melainkan produk sampingannya.
Anime ini tidak hanya berkisah tentang pertarungan antara penyihir dan makhluk gaib. Ia berbicara tentang manusia dan konsekuensi emosional dari cara manusia menjalani hidup. Kutukan adalah cermin: ia memantulkan wajah manusia yang rapuh, terluka, dan sering kali gagal memaknai penderitaannya sendiri.
Penyihir jujutsu hadir sebagai penjaga keseimbangan, tetapi mereka bukan pahlawan tanpa beban. Mereka adalah manusia yang memikul paradoks: melawan kutukan yang lahir dari sesama manusia, demi melindungi manusia itu sendiri. Mereka sadar bahwa perjuangan ini tidak akan pernah benar-benar selesai. Kutukan tidak bisa dimusnahkan sepenuhnya, karena sumbernya emosi manusia tidak mungkin dihapus.
Di tengah dunia yang brutal inilah, Jujutsu Kaisen menghadirkan satu figur yang penting secara simbolik: Yuji Itadori. Yuji bukan tokoh yang digambarkan sebagai manusia paling kuat atau paling cerdas. Justru sebaliknya, ia tampil sebagai sosok yang sangat manusiawi ragu, terluka, dan sering kali berada dalam dilema moral.
Yuji menonjol bukan kekuatannya, melainkan sikapnya terhadap kehidupan. Ia digerakkan oleh pertanyaan sederhana namun berat: bagaimana caranya agar hidup manusia lain tidak berakhir sia-sia? Dalam dunia yang terbiasa melihat kematian dan penderitaan sebagai konsekuensi wajar, Yuji menolak normalisasi luka. Setiap nyawa baginya memiliki bobot moral.
Secara simbolik, Yuji berdiri di titik paling rawan: hidup sangat dekat dengan kutukan, tetapi berusaha keras agar tidak kehilangan empati. Ia menyadari bahwa manusia bisa menjadi sumber kutukan, namun ia menolak menjadikan fakta itu sebagai alasan untuk berhenti peduli. Di sinilah Jujutsu Kaisen menegaskan satu hal penting: kemanusiaan bukan keadaan alami, melainkan pilihan etis yang harus diperbarui terus-menerus.
Tema persaudaraan kemudian menjadi poros cerita. Di tengah dunia yang rusak, para tokohnya bertahan bukan hanya karena kekuatan, tetapi karena relasi. Mereka saling melindungi, saling kehilangan, dan saling menanggung rasa bersalah. Persaudaraan dalam Jujutsu Kaisen bukan hubungan manis tanpa konflik, melainkan ikatan rapuh yang lahir dari penderitaan bersama.
Jujutsu Kaisen juga tidak menutup mata pada kenyataan pahit: persaudaraan sering kali diuji justru oleh realitas yang kejam. Ada kalanya manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan tragis, di mana tidak semua nyawa bisa diselamatkan dan tidak semua penderitaan bisa dicegah. Di titik ini, anime tersebut dengan jujur menunjukkan bahwa menjadi manusia berarti berhadapan dengan keterbatasan. Kegagalan, rasa bersalah, dan kehilangan bukan anomali, melainkan bagian dari perjalanan kemanusiaan itu sendiri.
Kesadaran akan keterbatasan inilah yang membedakan persaudaraan dari sekadar kebersamaan. Persaudaraan bukan janji bahwa dunia akan menjadi baik-baik saja, melainkan komitmen untuk tetap bertahan bersama meski dunia tidak ramah. Dalam Jujutsu Kaisen, bertahan hidup bukan soal menjadi yang terkuat, tetapi tentang siapa yang masih sanggup peduli ketika harapan terasa menipis. Kepedulian semacam ini tidak menghapus kutukan, tetapi mencegah manusia kehilangan makna hidupnya.
Pesan ini menemukan relevansinya dalam kehidupan kita hari ini. Manusia modern hidup di tengah kemajuan teknologi, tetapi justru semakin akrab dengan kecemasan dan kemarahan. Media sosial memendekkan jarak, namun sering kali memperlebar luka. Emosi negatif mudah diproduksi dan disebarkan, sementara empati kerap tertinggal. Kebencian menjadi komoditas, dan perbedaan berubah menjadi alasan permusuhan.
Seperti dalam Jujutsu Kaisen, emosi negatif dalam kehidupan nyata tidak menguap begitu saja. Ia menumpuk dalam ruang sosial, menular, dan menjelma “kutukan” sosial: polarisasi, dehumanisasi, dan kelelahan kolektif. Dalam kondisi ini, manusia bukan hanya korban situasi, tetapi juga aktor yang ikut memproduksi luka.
Judul Manusia, Kutukan, dan Saudara menemukan maknanya. Kutukan lahir dari manusia, tetapi harapan juga hanya bisa lahir dari manusia. Pertanyaannya bukan apakah kutukan itu ada, melainkan bagaimana manusia memperlakukan emosinya dan sesamanya.
Islam menempatkan persoalan ini pada fondasi etis yang kuat. Al-Qur’an menegaskan bahwa orang-orang beriman adalah saudara. Persaudaraan bukan sekadar identitas, melainkan tanggung jawab moral: tidak menzalimi dan tidak membiarkan kezaliman berlangsung. Nabi Muhammad saw. mengingatkan bahwa seorang Muslim tidak boleh menjadi sumber penderitaan bagi saudaranya.
Pesan ini sejalan dengan logika Jujutsu Kaisen. Dunia tidak diselamatkan oleh kekuatan besar semata, melainkan oleh kesediaan manusia untuk menjaga manusia lain. Ketika persaudaraan runtuh, emosi negatif menemukan legitimasi. Sebaliknya, ketika persaudaraan dirawat, kutukan kehilangan ruang tumbuhnya.
Para ulama sejak lama mengingatkan bahwa penyakit hati dendam, hasad, dan amarah berlebihan adalah akar kerusakan sosial. Penyakit ini tidak dihapus dengan penyangkalan, melainkan dengan pengenalan diri dan pengelolaan emosi. Dalam tradisi tasawuf, inilah proses tazkiyatun nafs: menyucikan jiwa agar emosi tidak berubah menjadi sumber kehancuran.
Titik ini, Jujutsu Kaisen dapat dibaca sebagai teks budaya yang relevan dengan pesan etis agama. Emosi tidak dimusuhi, tetapi diarahkan. Manusia tidak dituntut menjadi tanpa cela, tetapi diminta bertanggung jawab atas sisi gelapnya sendiri. Menjadi manusia berarti berani memikul beban moral itu.
Pada akhirnya, Jujutsu Kaisen tidak menawarkan dunia ideal. Ia justru menegaskan bahwa dunia akan selalu retak selama manusia ada. Namun, di tengah keretakan itu, manusia tetap memiliki pilihan: menjadi sumber kutukan, atau menjadi saudara yang menjaga agar dunia tidak sepenuhnya runtuh.
Pilihan itu terwujud dalam tindakan-tindakan kecil menahan kata yang melukai, melindungi yang lemah, dan mengakui bahwa manusia lain, dengan segala kekurangannya, tetap layak dimanusiakan. Di sanalah kehidupan ala Jujutsu Kaisen bertemu dengan kehidupan kita hari ini: dunia mungkin tidak pernah bebas dari kutukan, tetapi selama manusia masih mau memanggil yang lain sebagai saudara, harapan belum sepenuhnya padam.