Di zaman ruwet, kita lelah dalam debat. Pada saat mata membuka gawai, kita mengerti terjadi debat-debat beragam tema. Kita membaca saja sudah dikutuk capek. Debat-debat membikin putus asa. Kita terpaksa “mengikuti” sambil marah-marah atau mustahil berdoa secara tenang.
Di Indonesia, debat-debat justru membuat kita sulit waras. Serial debat setiap hari justru membimbing kita dalam kegilaan. Di hitungan menit, kita sah putus asa sebelum gila.
Debat-debat mutakhir mengenai penjambret dan pedagang es. Publik memiliki suara-suara terang tapi “dihajar” oleh penjelasan-penjelasan polisi dan tentara. Debat tampak tergelar tapi keinginan “menang-menangan” itu milik pihak polisi dan tentara. Publik digiring untuk saling berdebat meski ada misi mengalahkan argumentasi dari pihak-pihak merasa benar dan sadar hukum.
Di media sosial, debat-debat tanpa jadwal. Di televisi, kita menikmati debat-debat menghadirkan para tokoh pintar omong. Debat menjadi seru akibat omongan-omongan keras dan cepat. Pilihan kata sering menimbulkan ledakan. Kita mengerti mereka sedang bertarung diksi demi menang dan benar. Debat-debat di media sosial dan televisi menular ke pelbagai tempat: mencipta lelah dan putus asa kolosal di seantero Indonesia.
Kita mendingan mengundang Arthur Schopenhauer (1788-1860). Pada masa tua, ia memberi tinggalan berupa teks-teks mengenai debat. Kita mengutip dari edisi terjemahan bahasa Indonesia terbitan Circa, 2020. Arthur Scopenhauer mengungkapkan: “Manusia semestinya berpikir lebih dulu sebelum bicara. Namun, pada kebanyakan manusia, kesombongan bawaan diikuti oleh kegemaran untuk berbicara dan ketidakjujuran bawaan. Mereka berbicara dulu sebelum berpikir. Bahkan, tetap dihargai kendati salah. Meskipun penegasan mereka keliru, tetap saja mereka menginginkan hal yang sebaliknya. Minat pada kebenaran, yang diasumsikan menjadi satu-satunya motif ketika mereka menyatakan suatu proposisi sebagai benar, sekarang malah membuka jalan menuju minat-minat terhadap kesombongan. Sebab itulah demi mempertahankan kesombongan, yang benar harus terlihat salah, dan yang salah harus terlihat benar.” Kalimat-kalimat dari filosof Jerman itu sedikit meredakan pesimis kita setelah mengikuti debat-debat mengenai penjambret dan pedagang es gabus.
Kutipan itu membuat kita memilih cuti dari debat-debat. Istirahat sejenak sambil memikirkan pekerjaan. Di Indonesia, masalah pekerjaan masih menjadi masalah sangat genting. Konon, orang-orang bersedih sulit mencari pekerjaan gara-gara kebijakan rezim Prabowo-Gibran. Di pihak pemerintah, pengumuman dilakukan berulang tentang keberhasilan melakukan program-program mengakibatkan peningkatan jumlah orang bisa bekerja.
Kita berjanji tak berdebat sengit tentang pekerjaan. Sisa dari kelelahan debat-debat kemarin: penjambret dan pedagang es gabus menguak renungan pekerjaan. Kita memerlukan mengundang Karl Marx (1818-1883) memberi khotbah melalui tulisan bertahun 1835, diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Martin S. Lama tapi tetap memberi pengaruh mumpung kita mau merenung, bukan bernafsu untuk berdebat.
Karl Marx menjelaskan: “Sekalipun kita tak dapat bekerja dalam jangkan waktu panjang dan jarang-jarang berbahagia dengan kondisi raga yang tak sesuai profesi (pekerjaan), pemikiran tentang pengorbanan diri demi kewajiban, demi menjalankan tindakan sekalipun kita lemah, terus muncul. Namun bila kita telah memilih suatu pekerjaan, yang kita tidak punya bakat, kita tak akan bisa menjalankannya dengan penuh martabat. Kita akan segera menyadari dengan penuh malu ketidakmampuan kita dan berkata pada diri kita sendiri betapa kita makhluk ciptaan yang tidak berguna, anggota masyarakat yang tak mampu memenuhi panggilannya. Konsekuensi yang paling wajar ialah kebencian atas diri sendiri.”
Kita tentu tak sedang memikirkan pejambret dan pedagang es gabus saja. Kita boleh ikut memikirkan pekerjaan sebagai polisi, tentara, pengacara, dan anggota DPR. Debat-debat kemarin melibatkan orang-orang dengan beragam pekerjaan. Kini, kita masih bisa merenungi pekerjaan dengan khotbah lama dari Karl Marx saat dunia terlalu berubah.
Di Nusantara, abad XIX, kita pun mengenal sosok pemikir pekerjaan-pekerjaan digelar di tanah jajahan. Sosok biasa disebut pujangga, bukan filosof seperti Arthur Schopenhauer dan Karl Marx. Kita mengingat nama penting dan berpengaruh: Ranggawarsita (1802-1873). Ia menulis dalam bahasa Jawa. Pada abad XIX, tulisan-tulisan Ranggawarsita bukan pesona di Barat. Kaum sarjana Belanda membaca tapi tak mampu membawa Ranggawarsita dalam kancah pemikiran di dunia.
Di Serat Jayengbaya (1830), kita membaca bait-bait penuh kelakar dan kritik bertema pekerjaan. Ranggawarsita sedang merekam zaman, memberikan tanggapan dan melempar seribu tanda seru kepada pembaca. Ia mengolah humor agar berpikiran pekerjaan-pekerjaan tak membuat orang murung, letih, dan linglung.
Kita mengutip bait-bait mengimajinasikan pekerjaan sebagai pedagang. Kutipan dalam terjemahan bahasa Indonesia: Bila badan sedang beruntung/ pengaruh pencaharian nafkah/ berdagang cepat laku/ kata orang itu namanya mudah mendapat rezeki// Lama-lama makin kaya/ tidak kurang suatu apa/ menjadi saudagar besar/ terkenal sampai lain tempat/ didatangi sanak keluarga/ dengan ikhlas hati meringankan pekerjaan/ karena kebanjiran makanan/ Dan setiap hari tak henti-hentinya/ kedatangan teman yang minta/ barang-barang atau pakaian bekas/ pendeknya memang sudah lazim/ bila ada orang yang sedang berada/ semua pada memerlukan/ mendekat-dekat minta belas kasihan.
Ranggawarsita tak sekadar memberi imajinasi keberhasilan. Setiap pengisahan pekerjaan selalu mengandung konsekuensi terburuk. Saudagar itu kelak bisa menjadi masalah bagi negara. Ia bisa dituduh macam-macam dan bangkrut. Berdagang mulai dimengerti sebagai pekerjaan terlalu melelahkan dan memberi penderitaan.
Di Indonesia abad XX dan XXI, para saudagar besar mudah memasuki panggung politik. Mereka makin memiliki pembesaran modal dan kekuatan dalam arus kekuasaan. Situasi sangat berbeda saat kita diajak mengamati nasib pedagang es gabus.
Debat-debat tampak bermasalah dalam hukum. Kita mungkin bisa menepi sejenak agar tak terlalu memikirkan hukum dan politik. Berpikir tentang pekerjaan-pekerjaan mungkin memberi keinsafan atas lakon rumit di Indonesia. Kita belum ingin berdebat (lagi) meski telah digoda oleh berita mengenai orang-orang terlibat dalam kebijakan makan bergizi gratis bakal dimuliakan melalui status pekerjaan di naungan pemerintah. Begitu.