Agama selalu menjadi topik yang hangat—mengisi headline media, mimbar-mimbar dakwah, hingga obrolan warung kopi. Di lapisan bawah, masyarakat kerap disibukkan dengan perdebatan halal dan haram, soal-soal moral personal yang tak pernah selesai. Sementara itu, di lapisan atas, agama justru sering tampil sebagai instrumen kekuasaan. Ia dikelola, dimonopoli, bahkan dikorupsi. Kesalehan dipertontonkan, sementara keadilan ditinggalkan.
Keganjilan inilah yang dibaca Jason Ranti melalui lagu “Suci Maksimal”. Dalam sebuah wawancara, Jason menyebut lagu ini lahir dari kegelisahannya melihat bagaimana simbol-simbol agama kerap dijadikan topeng untuk menutupi tindak kejahatan. Lagu ini tidak sedang menyerang agama sebagai nilai, melainkan mempersoalkan bagaimana agama direduksi menjadi performa—sekadar citra kesucian.
Untuk membaca kritik ini secara lebih utuh, hermeneutika Gadamer menjadi relevan. Bagi Gadamer, makna sebuah teks tidak pernah tunggal dan final. Ia lahir dari pertemuan antara horizon teks dan horizon pembaca (Hardiman, 2018). Dengan demikian, lagu “Suci Maksimal” tidak berdiri sebagai kritik personal Jason semata, tetapi menjadi ruang dialog dengan realitas sosial yang sedang kita hidupi hari ini.
Sejak bait awal, Jason langsung mengguncang:
Uh pak penjahat
Naik haji setahun sekali
Uh bu penjahat
Cuci kaki satu jam sekali
Suci maksimal
Penyebutan “pak penjahat” dan “bu penjahat” berdampingan dengan ritual agama menghadirkan ketegangan makna. Kesucian yang seharusnya menjadi hasil dari laku etis justru tampil sebagai rutinitas mekanis. Dalam horizon pembaca, bait ini berbenturan dengan realitas yang akrab seperti orang-orang yang tampak saleh di ruang publik, namun terlibat dalam praktik yang mencederai nilai agama itu sendiri. Di sinilah ironi bekerja—ritual berjalan sempurna, tetapi etika absen.
Jason kemudian memperluas kritiknya:
Uh pak penjahat
Cita-cita jadi robin hood
Robin Hood dikenal sebagai figur yang mencuri demi berbagi. Namun Jason justru mempertanyakan moralitas semacam itu ketika kejahatan dibungkus dengan narasi kebaikan. Dalam konteks sosial kita, lirik ini bersinggungan dengan figur-figur yang merampas hak publik, lalu tampil sebagai dermawan atau tokoh moral. Horizon teks dan pengalaman pembaca bertemu, bahwa kebaikan yang dipamerkan sering kali menutupi sumber keburukan yang disembunyikan.
Merah kuning hitam putih kelabu
Jalan hidupmu sungguh kelabu
Kelabu menjadi metafora yang kuat. Tidak sepenuhnya hitam, tetapi jauh dari putih. Jason membaca kehidupan para “penjahat berjubah” sebagai wilayah abu-abu yang sengaja dipelihara. Ambiguitas moral ini justru menguntungkan. Cukup saleh untuk dipercaya, cukup licik untuk berkuasa. Kelabu ini bukan sekadar warna, melainkan kondisi historis masyarakat yang membiarkan kontradiksi itu terus berlangsung.
Pertanyaan eksistensial lalu dilontarkan:
Apakah tidurmu puas lama dan pulas
Mimpimu indah panjang dan luas
Atau gelap dan buas
Pertanyaan ini tidak hanya ditujukan pada sosok dalam lagu, tetapi juga kepada kita sebagai pendengar. Jason tidak menghakimi, ia mempertanyakan. Apakah kesalehan performatif cukup untuk menenangkan nurani?
Kritik semakin konkret ketika Jason menyeret realitas media:
Kulihat TV pak penjahat safari moral
Kubaca koran pak penjahat banyak simpenan
Kebanyakan cinta
Doanya kencang jahatnya tetap
Hatinya hitam baju berkilau
Media menjadi panggung utama kesucian palsu. Moral dipertontonkan, doa dikeraskan, sementara kejahatan tetap berlangsung. Di titik ini, lagu tidak lagi sekadar sindiran, melainkan dakwaan sosial. Horizon teks bertemu dengan pengalaman kolektif pembaca yang setiap hari menyaksikan paradoks serupa.
Jason menutup lagunya dengan pengulangan pertanyaan tentang tidur dan mimpi—sebuah penegasan bahwa problem utama bukan pada kurangnya ritual, melainkan pada keterputusan antara iman dan etika. Kesucian yang maksimal tanpa keadilan hanya melahirkan kebohongan yang rapi.
Melalui “Suci Maksimal”, Jason Ranti mengingatkan bahwa agama kehilangan maknanya ketika ia yang seharusnya menjadi jalan pembebasan malah berubah menjadi alat legitimasi. Dengan hermeneutika Gadamer, lagu ini tidak kita baca sebagai kritik sepihak, melainkan sebagai dialog yang memaksa kita merefleksikan posisi sendiri di tengah realitas yang kelabu.
Pada akhirnya, lagu ini menelanjangi satu kebenaran yang tidak nyaman, bahwa kesalehan tidak diukur dari seberapa keras doa dipanjatkan atau seberapa sering ritual dilakukan, melainkan dari keberanian menjaga etika ketika tidak ada sorotan. Dan mungkin, justru di situlah kesucian yang sebenarnya diuji.