Belakangan, banyak teman-teman baru di FB maupun media sosial saya yang lainnya yang DM dan bertanya soal Iran, bagaimana kehidupan dan perkembangan ilmu di sana? Saya mengerti, setelah perang ini, banyak orang yang “baru” tahu soal Iran. Mereka berhasil melewati sebagian tembok yang selama ini “sengaja” dibangun para pemangku kepentingan global.
Bagi teman-teman yang sudah lama berinteraksi dengan saya di medsos dan membaca beberapa postingan saya, apa lagi yang sudah pernah ke Iran, tidak kagetan lagi.
Tapi, baiklah. Sekedar menjawab rasa kepenasaran teman-teman yang baru bergabung atau mungkin yang terlewat membaca postingan saya yang lama-lama. Saya akan sedikit share beberapa hal yang mungkin bisa jadi inspirasi.
Ketika mengikuti acara kongres Iranologi yang diikuti banyak profesor bidang studi filologi dan peradaban dari berbagai benua, kami diagendakan untuk berkunjung ke sebuah pusat riset ISC. Ini semacam pusat raksasa data untuk studi ilmu sosial, iptek, dan keislaman.
Di sana, mereka juga menjelaskan bagaimana data, hasil penelitian, bahkan perjumpaan para periset dan sektor industri bertemu. Di Iran, ada begitu banyak lembaga sejenis ini, salah satunya ISC yang cukup besar. Di sanalah pengetahuan terus menerus diproduksi dan diabadikan.
Ketika perang meletus, nampaknya para lawan Iran ini ‘cemburu’ pada perkembangan yang terjadi di Iran. Terbukti banyak bagian yang disasar adalah kampus-kampus, ilmuwan, dan beberapa pusat riset. Namun, tidak perlu khawatir, mereka mengarsipkan kembali data tersebut secara komputerisasi yang terhubung dengan internet nasional. Jadi sekalipun gedung ini menjadi terget, data, embrio sains dan ilmu pengatahuan tetap akan terjaga.
Saya sendiri beberapa hari sebelum perang meletus, masih mengajar kajian Indonesia di pusat ensiklopedia dunia Islam di Tehran. Lembaga ini cukup serius memproduksi berbagai entri dari berbagai negara termasuk Indonesia. Gedungnya sangat luas dan terdiri dari beberapa lantai. Di lantai bawah, ada perpustakaan yang memuat jutaan buku dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Kami termasuk yang dimintai untuk mengurasi judul-judul buku dari Indonesia. Sudah cukup banyak yang terkumpul dan rencananya beberapa bulan ke depan akan dibuka secara resmi.
Tapi, ya begitulah. Ambisi dan keserakahan “dua kakek tua” itu untuk mengeruk minyak dan menguasai dunia, mengubah banyak rencana. Semoga, buku-buku yang kami bawa jauh melintasi samudra akan tetap aman, dan yang terpenting seluruh masyarakat Iran, termasuk mereka yang berkecimpung dalam dunia akademik bisa melewati ujian ini dan dunia kembali damai, Amiiin.