"Bienvenuto a Napule, Welcome!"
Salam sapa sang supir taksi yang ramah tersebut menyambut kami yang baru saja tiba di Napoli-Italia, sekitar pukul sepuluh malam. Kesan hangat pun menyeruak, membuat dinginnya malam tak begitu terasa.
Sepanjang perjalanan menuju penginapan, obrolan kami pun mengalir semakin seru—dari topik sepak bola hingga genosida warga Gaza, Palestina. Pak supir bercerita bahwa warga Napoli sangat mendukung kemerdekaan Palestina, terutama berkat advokasi almarhum Paus Fransiskus. Kesan positif tentang kota ini pun semakin kuat tertancap di kepala saya. Hal yang menyenangkan, mengingat perjalanan kami ke sini sebenarnya spontan belaka—tiket dari Amsterdam, tempat tinggal kami, cukup terjangkau dan waktu penerbangan pun hanya 2,5 jam saja.
Napoli memang dikenal sebagai kota yang mayoritas penduduknya Katolik, dan baru tahun lalu merayakan scudetto Italia (edisi 2024/2025). Namun kota ini juga dihuni oleh komunitas Muslim yang diperkirakan berjumlah 15.000–20.000 jiwa. Di sela menikmati kota, kami sengaja mampir ke Moschea di Napoli dan mengobrol panjang dengan sejumlah jamaah di sana.
Salah satu Muslimah yang sempat saya ajak bicara adalah Claudia, perempuan asli Napoli yang telah memeluk Islam hampir enam tahun. Ia memutuskan bersyahadat setelah terpesona dengan ajaran Islam saat berkunjung ke Turki.
Menariknya, proses perjalanannya itu dikelilingi oleh lingkungan yang sangat suportif, meski jumlah Muslim di kota ini tidak besar. Rasa solidaritas dan kekeluargaan di antara mereka, kata Claudia, terjalin sangat erat—terwujud dalam berbagai kegiatan rutin seperti kajian, perayaan hari besar, hingga piknik bersama keluarga untuk mempererat ukhuwah. Bahkan para Muslimah punya ruang tersendiri: sebuah kelompok kecil yang secara rutin mengadakan girls day out demi menjaga kebersamaan dan keimanan mereka.
Selain itu, masjid lokal kini juga membuka madrasah untuk anak-anak, biasanya berlangsung setiap Sabtu dan Minggu saat mereka libur sekolah. Semua program tersebut berjalan beriringan, meski tidak sedikit rencana yang belum terlaksana karena donasi jamaah belum mencukupi.
Meski kecil, komunitas Muslim Napoli sangat solid dan kompak. Berbagai tantangan sebagai warga minoritas tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus mendakwahkan nilai-nilai Islam. Soal makanan halal, misalnya—ada beberapa tempat makan halal, namun lokasinya tidak tersebar merata dan sebagian besar terkonsentrasi di sekitar masjid, menyulitkan mereka yang tinggal jauh. Tantangan lain adalah lahan pemakaman Muslim yang sangat terbatas. Banyak Muslim di Italia akhirnya dimakamkan di negara asal mereka, seperti Maroko atau Tunisia. Namun bagi warga lokal asli Italia yang tidak memiliki keluarga di luar negeri, pilihan itu tidak tersedia—dan biaya pemakaman lintas negara pun terlampau mahal.
Di balik semua hambatan itu, komunitas Muslim Napoli justru menunjukkan semangat yang tak mudah padam. Claudia bercerita bahwa satu sama lain saling membantu ketika ada kesulitan, dan itulah yang membuat Islam terasa semakin indah. Kehangatan itu pun saya rasakan sendiri: begitu kami datang, mereka menyambut dengan senyum dan salam yang tulus, mengajak kami salat dan makan bersama, serta dengan senang hati berbagi cerita tentang sejarah dan perkembangan komunitas mereka.
Dari kunjungan singkat ini saja, saya sudah sangat yakin—selain kopinya yang terkenal, Napoli menyimpan kehangatan lain yang tak kalah istimewa: solidaritas dan silaturahmi komunitas Muslimnya.