Bravo Como 1907. Bravo Cesc Fabregas. Untuk pertama kalinya Como mengukir sejarah, tembus ke kompetisi elit Eropa. Como musim depan akan berlaga di Liga Champion. Atas capaian ini, Como tidak lagi berstatus klub gurem. Klub yang dimiliki bos Djarum ini meningkat derajatnya menjadi klub super.
Tampaknya bukan sebuah usul yang usil kalau sang pemilik ingin menambahkan kata super pada nama klub tersebut: COMO 1907 SUPER. Label super disini menyiratkan makna ganda. Pertama, Como memang naik level menjadi klub super, kedua, menambah identitas baru yang disesuaikan dengan pamor pemiliknya yang terkenal sebagai bos Djarum Super.
Como sebetulnya bukan pendatang baru di kasta tertinggi Liga Italia. Hanya saja nasibnya lebih banyak berkubang dalam lumpur keterpurukan. Roda nasib yang dialami Como tidak berputar cepat. Saat dirundung malang, Como tidak bisa segera bangkit. Ia pertama kali bermain di Serie A pada tahun 1949 dan hanya bertahan empat musim.
Setelah itu roda nasibnya stagnan, tidak berputar, terus berada di bawah. Como tenggelam begitu lama, dan baru kembali ke Serie A pada tahun 1984. Suratan takdirnya tidak jauh beda dengan era 1940-an. Como hanya menjadi kontestan di Liga Italia selama 5 musim.
Pasca era 1980-an, Como bagaikan mayat yang terkubur. Como seolah terbaring dalam persemayaman terakhir dan namanya tidak muncul lagi. Ketika tiba-tiba Como bangkit dan promosi ke Serie A pada musim 2024-25, orang bingung, ini tim kesebelasan berasal darimana? Dari saking lamanya hilang dari peredaran, Como dianggap klub dari negeri antah berantah.
Titik kebangkitan Como bermula dari proses akuisisi yang dilakukan oleh Hartono Bersaudara. Melalui sayap bisnisnya bernama Sent Entertainment Ltd, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono bukan hanya menyelamatkan Como dari kebangkrutan dan krisis finansial, tapi menyusun langkah matang, mempersiapkan transformasi besar-besaran untuk mengubah Como menjadi klub yang menolak tunduk terhadap tim-tim mapan Italia.
Kebangkitan kali ini bukan untuk merepitisi sejarah kelamnya yang tidak memiliki daya resiliensi tinggi. Como tidak mau mengulang citra buruknya; hanya bercokol sebentar di Serie A, lalu lenyap lagi. Di bawah naungan manajemen Sent Entertainment Ltd, klub yang bermarkas di Lombardia ini tidak mau keikutsertaannya di Liga Italia hanya demi memenuhi jumlah kuota peserta saja. Comeo ingin menyalakan api persaingan, memanaskan rivalitas, dan enggan datang ke lapangan hijau dengan mental inferior.
Perjalanan Como mengarungi paruh pertama (lebih 5 pekan) di musim 2024-25 ditandai dengan grafik penampilan naik turun. Dari pekan ke-1 hingga pekan ke-24, Como tidak bisa melaju dengan stabil. Como baru menikmati langkah akseleratif pada pekan ke-25 hingga pekan terakhir.
Bagaikan rider yang sudah mengenal lintasan sirkuit, Como berani menginjak pedal gas. Kemenangan demi kemenangan diraihnya. Dari 14 laga yang dilakoni, Como hanya kalah dari AS Roma, AC Milan dan Intermilan. Tiga kekalahan ini tentu tidak menghalangi laju Como merangsek ke posisi papan tengah.
Tim besutan Fabregas berhasil membalikkan prediksi banyak orang. Como yang diramalkan bakal kesulitan bersaing di kasta tertinggi Liga Italia berakhir finis di posisi 10. Como bukan hanya berhasil keluar dari jurang degradasi, tapi mensejajarkan dirinya dengan tim medioker.
Keberhasilan ini mendapat sambutan luar biasa dari manejemen klub. Menyongsong etape kedua di musim 2025-2026, Hartono Bersaudara pasti menargetkan capaian yang lebih tinggi. Fabregas tidak boleh hanya berpikir bagaimana Como punya daya resiliensi tinggi agar tetap bisa bertahan di Serie A. Fabregas dan anak asuhnya harus mempersiapkan lebih matang menembus papan atas.
Di tengah ikhtiar menggapai target yang lebih tinggi itu, Fabregas merasa sangat terpukul karena harus kehilangan sosok Michael Bambang Hartono. Sang pemilik klub Como itu meninggal dunia di Singapura pada Kamis (19 Maret 2026). Di mata legenda Arsenal itu, Michael Bambang Hartono merupakan sosok penting dalam transformasi besar Como.
Fabregas tidak hanya mengucapkan belasungkawa. Juru taktik berpaspor Spanyol ini secara spesial mempersembahkan kemenangan Como atas Pisa untuk kepergian Michael Bambang Hartono menghadap Sang Pencipta. Kebetulan ajal menjemput adik kandung Robert Budi Hartono ini menjelang pertandingan Como melawan Pisa.
Mungkin Fabregas bergumam dalam hati, seandainya Michael Bambang Hartono wafat bersamaan dengan berakhirnya Serie A, dia akan mempersembahkan kado istimewa untuk mengiringi kepergiannya. Tiket Liga Champion mungkin dikalungkan ke dadanya.
Anomali
Como tembus Liga Champion merupakan anomali yang menggemparkan sepakbola Italia. Fabregas harus bertarung melawan Juventus dan Milan untuk memperebutkan empat besar. Pelatih debutan ini tidak hanya berhasil menyingkirkan dua tim raksasa Italia, tapi sekaligus membenamkan nama besar Massimiliano Allegri dan Luciano Spalletti.
Keberhasilan Como lolos Liga Champion dibumbui rivalitas antara Fabregas dan Allegri. Milan di bawah besutan Allegri lebih tinggi berpeluang lolos. Seandainya di laga penutup, Milan bisa mengalahkan Cagliari, kemenangan Como atas Cremonese tidak mendongkak Como ke posisi ke-4. Como tertahan di posisi ke-5 di bawah Milan. Tapi Allegri menyia-nyiakan peluang padahal Milan bermain di markas San Siro, sementara Fabregas justru tampil beringas memangsa Cremonese dengan skor 1-4 walaupun berstatus tim tamu.
Tensi panas antara kedua pelatih debutan dan juru taktik veteran ini tidak hanya terjadi di akhir musim. Keduanya pernah terlibat cekcok saat Como bertandang ke kandang San Siro dalam lanjutan Serie A, Kamis (19 Februari 2026).
Fabregas ketahuan menarik baju Alexis Saelmaekers saat pemain Milan ini berlari di pinggir lapangan mengejar dua pemain Como. Aksi tidak sportif Fabregas kena damprat langsung oleh Allegri. Allegri mencemooh Febregas sebagai pelatih kekanak-kanan.
Ironisnya, wasit malah mengganjar Allegri dengan kartu merah. "Lain kali jika ada seseorang yang berlari melewati saya, saya akan melakukan tekel," ujar Allegri dengan nada sarkastik.