Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang
Tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang di esok hari
Lirik tersebut mengisyaratkan waktu istirahat bukan sekadar terlelap karena lelah, tetapi tidur tanpa dikejar rasa cemas akan hari esok. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terdengar sederhana, namun menyimpan kegelisahan yang dalam. Ia menyingkap satu kenyataan pahit, bahwa di dunia yang mengagungkan kesibukan, ketenangan justru menjadi sesuatu yang langka. Istirahat bukan lagi hak, melainkan hadiah yang hanya datang setelah tubuh diperas habis-habisan.
Kita hidup dalam zaman yang memuja gerak dan hasil. Diam dicurigai sebagai kemunduran, berhenti dianggap kegagalan. Waktu tidak lagi mengalir, tetapi dikejar dan dipaksa tunduk. Dari sanalah kelelahan lahir, disusul kecemasan yang tak pernah benar-benar selesai. Pikiran terus bekerja bahkan ketika tubuh merebah. Tidur kehilangan maknanya sebagai pemulihan, ia hanya menjadi jeda singkat sebelum tuntutan berikutnya datang.
Keresahan ini menemukan suaranya dalam lagu “Secukupnya” karya Hindia, nama panggung dari Daniel Baskara Putra. Hindia tidak berbicara dari menara gading, juga tidak menawarkan formula hidup bahagia. Ia hadir sebagai bagian dari generasi yang sama-sama kelelahan, sama-sama bertanya, sampai kapan hidup harus dijalani dengan cara seperti ini?
Lagu ini menarik karena tidak memaksa pendengarnya untuk segera bangkit atau berubah. Ia justru mengajak kita menatap hidup apa adanya—hidup yang sering kali dipenuhi tuntutan, kekurangan, dan rasa tidak pernah cukup. Di titik inilah “Secukupnya” bekerja sebagai kritik, bukan hanya terhadap sistem yang menekan, tetapi juga terhadap cara kita memaksa diri sendiri untuk terus kuat.
Tubuh yang berpatah hati bergantung pada gaji
Berlomba jadi asri mengais validasi
Lirik ini terasa dekat karena ia berbicara tentang keterikatan kita pada dua hal sekaligus, yakni kebutuhan ekonomi dan pengakuan sosial. Patah hati tidak melulu soal cinta, ia juga tentang hidup yang terasa sempit dan tak memberi ruang bernapas. Namun roda harus terus berputar. Gaji menjadi penopang utama, sementara validasi menjadi pelengkap agar kita merasa keberadaan kita diakui.
Media sosial memperparah keadaan itu. Ia menawarkan ilusi bahwa semua orang baik-baik saja, bahwa hidup selalu bisa ditata rapi dan indah. Dalam perlombaan untuk tampak berhasil, kita perlahan kehilangan kejujuran pada diri sendiri. Yang ditampilkan adalah versi terbaik, sementara kelelahan disimpan rapat-rapat.
Setelah menyingkap kenyataan tersebut, Hindia tidak berhenti pada kritik. Ia memilih untuk hadir:
Dan aku pun terhadir
Seakan paling mahir
Menenangkan dirimu
Yang merasa terpinggirkan dunia
Kehadiran ini penting. Hindia tidak menempatkan diri sebagai penyelamat, melainkan sebagai sesama yang ikut duduk di lantai yang sama. Lagu ini tidak menggurui, tidak pula menuntut. Ia hanya mengatakan: kamu tidak sendirian merasa seperti ini. Dalam dunia yang gemar menuntut ketangguhan, pengakuan atas kerapuhan menjadi sesuatu yang sangat manusiawi.
Tak pernah adil
Kita semua gagal
Angkat minumanmu
Bersedih bersama-sama
Di bagian ini, Hindia menolak optimisme yang dipaksakan. Ia mengakui bahwa hidup memang tidak adil dan kegagalan adalah pengalaman bersama. Kesedihan tidak dipandang sebagai kelemahan yang harus segera disingkirkan, melainkan sebagai emosi yang sah untuk dirasakan. Namun, ia juga tidak mengajak kita tenggelam selamanya di dalamnya. Bersedih, ya—tetapi bersama, dan secukupnya.
Sia-sia pada akhirnya
Putus asa terekam pedih semua
Masalahnya lebih dari yang secukupnya
Kalimat ini mencerminkan akumulasi dari hidup yang terlalu sering dipaksakan. Ketika harapan demi harapan runtuh, yang tersisa hanyalah rasa sia-sia. Kita lalu menoleh ke masa lalu, mencari pegangan pada mimpi-mimpi kecil, orang-orang terdekat, atau kenangan yang pernah memberi arti. Kerinduan itu muncul karena masa kini terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
Di sinilah pesan utama lagu ini semakin jelas, bahwa hidup tidak harus selalu dimenangkan. Tidak semua pertanyaan menuntut jawaban segera.
Secukupnya kan masih ada
Penggantinya belum waktunya kau bisa
Menjawabnya
Hindia mengingatkan kita pada satu kebijaksanaan yang sering terlupakan—bahwa manusia memiliki batas. Kita bisa digantikan, kita bisa gagal, dan kita tidak harus memahami semuanya sekarang. Kesadaran akan batas ini bukan tanda kekalahan, melainkan bentuk kejujuran terhadap diri sendiri.
Semua yang sirna kan kembali lagi
Semua yang sirna kan nanti berganti
Penutup lagu ini menawarkan harapan yang tidak berisik. Ia tidak menjanjikan kebahagiaan mutlak, tetapi memberi ruang untuk percaya bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Segala sesuatu bisa berubah bentuk, berganti arah, atau kembali dengan cara yang tidak kita duga.
Pada akhirnya, “Secukupnya” berbicara tentang etika hidup. Tentang tahu kapan harus mengejar, kapan berhenti, dan kapan menerima. Ia mengajak kita untuk tidak berlebihan dalam memaksa diri, tidak pula berlebihan dalam bersedih maupun berharap. Optimisme tetap penting, tetapi ia perlu dijaga agar tidak berubah menjadi penyangkalan. Sebab barangkali, hidup justru menjadi paling jujur dan paling manusiawi ketika kita menjalaninya dengan secukupnya.