Ada satu fakta menarik dari palagan Iran vs US-Israel (Maret, 2026), yang barangkali tak teramati banyak orang, yaitu keputusan Raja Spanyol saat ini, Felipe VI (Felipe Juan Pablo Alfonso de Todos los Santos de Borbón y Grecia) yang ogah negaranya dijadikan Amerika sebagai titik tolak tentaranya untuk merangsek ke teluk.
Di luar sejarah besar mereka yang membagi dua wilayah dunia dengan Portugal melalui Perjanjian Tordesillas (7 Juni 1494), yang membuat Raja Felipe VI begitu bernyali, ada satu kronik lain yang juga bisa menjadi tolok ukur betapa mereka bukan bangsa yang mudah diperintah. Dasarnya cuma satu, harga diri!
Mari kita mundur sejenak ke abad 15 M…
Matahari 1483 di pinggiran Loja tidak hanya memantulkan kilau baja, tetapi juga keringat dan doa yang menggantung di udara yang panas. Di hadapan gerbang kota, berdiri seorang pria tua berjanggut putih dengan garis wajah setajam pedang Toledo. Ia adalah Ibrahim al-Attar, gubernur Loja sekaligus mertua dari Sultan Boabdil (Muhammad XII)—sultan Andalusia terakhir.
Sejarah mencatat bahwa al-Attar bukan sekadar jenderal; ia adalah roh dari perlawanan Granada. Saat tentara Kastilia yang dipimpin Raja Ferdinand membawa ribuan kavaleri dan infanteri—sebuah lautan besi yang merayap menuju benteng—al-Attar tidak memilih bersembunyi di balik tembok batu.
Secara matematis, seratus pejuang al-Attar melawan puluhan ribu adalah bunuh diri. Namun, dalam kacamata ksatria, itu adalah "kesempatan untuk hidup selamanya". Selama berjam-jam, al-Attar dan unit kecilnya melakukan sortie (serangan mendadak keluar benteng) yang begitu brutal dan presisi, hingga garis depan pasukan Kristen kocar-kacir. Ia bertempur layaknya singa yang terluka, mengubah debu Andalusia menjadi merah.
Spanyol mengenalnya dengan nama Aliatar. Mengapa mereka membangun patungnya di pusat kota Loja? Mengapa pedangnya disimpan dengan takzim di Museo del Ejército (Museum Militer) di Madrid, lalu dipindahkan ke Museum Granada?
Ia berbeda dengan kaum bangsawan lain yang mencari suaka atau tanah kompensasi, al-Attar gugur di medan laga (Pertempuran Lucena). Ia tidak menukar imannya dengan emas. Pedang jineta miliknya adalah mahakarya seni sekaligus simbol maut. Gagangnya yang dihiasi gading dan emas menjadi simbol bahwa musuh yang paling berbahaya sekalipun layak mendapatkan tempat terhormat dalam sejarah mereka.
Sejarah boleh ditulis oleh pemenang, tapi rasa hormat dipahat oleh keberanian mereka yang kalah.
Rakyat Spanyol memiliki intuisi sejarah yang unik. Mereka menyimpan rasa iba sekaligus cemooh pada Boabdil (Muhammad XII), sultan terakhir yang menyerahkan kunci Granada sambil menangis, hingga ibunya sendiri menegurnya dengan kalimat pedas, "Jangan menangis seperti perempuan, untuk sesuatu yang tidak bisa kau pertahankan sebagai lelaki!"
Namun untuk al-Attar, Spanyol memberinya lencana kelestarian. Patungnya di Loja, berdiri kokoh dengan tangan menggenggam hulu pedang, memandang ke arah perbukitan yang pernah ia pertahankan hingga napas terakhir. Nama "Aliatar" masuk ke dalam legenda-legenda rakyat (romanceros), digambarkan sebagai sosok raksasa yang bayangannya masih menjaga gerbang-gerbang kota dari pengkhianatan.
Dalam Pertempuran Lucena (1483), al-Attar gugur dalam usia senja (hampir 90 tahun menurut beberapa catatan tradisional, meski lebih akurat sekitar 70-an tahun). Ia tewas saat melindungi mundurnya pasukan si menantu pecundang, Boabdil. Pedang al-Attar adalah salah satu spesimen pedang Nasrid terbaik yang bertahan hingga hari ini, membuktikan keagungan peradaban Islam Granada pada detik-detik terakhirnya.
Ibrahim al-Attar adalah pengingat bahwa dalam sejarah, kemenangan tidak selalu berarti bendera yang berkibar di atas menara, tetapi tentang siapa yang namanya tetap harum saat lebu peperangan telah mengendap selama lima ratus tahun.
Bersambung..