Tulisan sebelumnya..
Perang Gerilya di Pegunungan Sierra Nevada
Mari kita masuki celah-celah sempit di pegunungan itu, di mana anginnya membawa aroma mesiu dan derap kaki kuda yang tak pernah tenang. Di sinilah, Ibrahim al-Attar—sang Singa dari Loja—mengubah geografi yang ganas menjadi sekutu paling mematikan bagi pasukan Muslim Granada.
Jika Boabdil adalah wajah diplomasi yang layu dan kuyu, maka Al-Attar adalah otot dan urat saraf yang menolak menyerah. Al-Attar tidak pernah membiarkan pasukannya terjebak dibalik tembok kota dalam waktu lama. Ia penganut fanatik strategi sortie. Saat barisan tentara Kastilia yang kelelahan setelah mendaki perbukitan terjal menuju Loja, tiba-tiba, gerbang kota terbuka. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk memuntahkan kavaleri ringan yang bergerak seperti badai pasir.
Al-Attar menyerang saat musuh sedang membangun kamp. Sebelum infanteri Spanyol sempat mengenakan baju zirah mereka sepenuhnya, Al-Attar sudah menebas garis depan dan menghilang kembali ke dalam kabut pegunungan. Sierra Nevada bukan sekadar pemandangan indah; itu adalah labirin maut. Al-Attar menggunakan teknik yang kala itu dikenal sebagai "El Embudo" (Corong). Ia sering mengirim sekelompok kecil pemanah untuk memprovokasi kavaleri berat Spanyol. Karena marah, kavaleri tersebut akan mengejar ke dalam celah sempit (ngarai).
Begitu musuh terjepit di jalan setapak yang sempit di mana kuda-kuda mereka tak bisa berputar, pasukan Al-Attar yang tersembunyi di atas tebing akan menghujani mereka dengan batu besar, anak panah, dan api Yunani. Di medan ini, 65.000 tentara tidak ada gunanya jika mereka hanya bisa maju satu per satu. Ini adalah benturan dua filosofi perang. Spanyol mengandalkan ksatria berbaju besi berat. Al-Attar mengandalkan gaya Jineta. Pasukan Al-Attar menggunakan sanggurdi pendek dan kuda Arab yang lincah. Mereka bisa menembakkan panah atau melemparkan tombak pendek, lalu berputar 180 derajat dalam sekejap.
Mereka berpura-pura melarikan diri lalu mundur teratur. Saat pasukan Kristen mengejar dengan formasi yang pecah karena kelelahan, pasukan Al-Attar tiba-tiba berbalik arah secara serentak dan menyerang titik terlemah lawan.
Al-Attar juga memiliki jaringan informan di antara penduduk gunung (Alpujarras). Setiap daun pohon zaitun di Sierra Nevada adalah mata bagi Al-Attar, dan setiap gua adalah gudang senjatanya. Ia tahu kapan pasokan logistik musuh akan melintas. Ia tidak menyerang pasukan inti, melainkan memutus jalur makanan dan air. Inilah yang membuat pengepungan Loja menjadi begitu mahal dan berdarah bagi Ratu Isabella.
Ketangguhan strategi gerilya ini begitu membekas bagi militer Spanyol hingga berabad-abad kemudian, mereka mengadopsi elemen-elemen taktik Al-Attar dalam perang melawan Napoleon. Mereka menyebutnya Guerrilla (Perang Kecil), namun ujung akarnya ada pada perlawanan patriotik para pejuang Andalusia di Sierra Nevada. Ibrahim al-Attar gugur di usia yang sangat senja dalam pertempuran terbuka di Lucena, bukan karena strateginya gagal, tetapi karena ia memilih menjadi "tameng terakhir" agar menantunya, Boabdil, bisa selamat. Sebuah pengorbanan yang ironis, mengingat siapa yang akhirnya mengkhianati Granada.
Kisah Al-Attar ini mengingatkan kita pada situasi yang nyaris serupa di Padang Karbala, saat cucu Nabi Muhammad Saw, Imam Husein dengan 72 orang pejuangnya (terdiri dari 32 kavaleri dan 40 infanteri) menghadapi 100.000 orang tentara Yazin bi Mu’awwiyah pada 10 Muharram 61 Hijriah/10 Oktober 680 Masehi.
Detik di Tepi Sungai Genil
Lembah Lucena, April 1483. Andalusia seolah sedang menahan napas panjang. Di sana, di antara denting baja yang beradu dan pekikan kuda yang sekarat, seorang lelaki tua berdiri sebagai pembatas antara kehormatan dan kehancuran negerinya. Ibrahim al-Attar sudah tak lagi muda, namun di tangannya, pedang Jineta itu masih menari dengan presisi maut.
Debu pertempuran menyumbat tenggorokan para tentara. Al-Attar menoleh ke belakang, melihat menantunya, Sultan Boabdil, yang tampak pucat dan gamang di atas pelana emasnya. Barisan belakang Granada pecah. Kavaleri Kastilia menerjang bak air bah yang menghancurkan tanggul.
"Pergilah!" teriak Al-Attar, suaranya parau namun menggelegar di tengah bisingnya perang dahsyat itu. "Biar aku yang menjadi dindingnya!"
Dengan hanya segelintir pengawal yang tersisa—anak-anak muda yang menolak meninggalkan sang jenderal—Al-Attar memacu kudanya langsung ke jantung formasi musuh. Ia bukan sedang menyerang, melainkan sedang mengulur waktu bagi masa depan Granada yang rapuh.
Sebilah tombak menghunjam bahunya, namun ia tak goyah. Pedangnya menebas rantai zirah lawan, menjatuhkan ksatria-ksatria muda Kastilia yang tertegun melihat kegilaan lelaki berjanggut putih ini. Namun, jumlah adalah musuh yang tak bisa dikalahkan oleh keberanian semata. Di tepi sungai Genil yang licin oleh lumpur dan darah, kudanya pun terhempas.
Al-Attar bangkit, berdiri tegak dengan kaki yang mulai gemetar, namun tatapan matanya masih tajam menghunus. Saat pedang-pedang lawan mengepungnya dari segala penjuru, ia tidak meminta pengampunan. Malahan, ia memilih gugur di tanah yang dicintainya. Sementara nun di kejauhan, menantunya justru tertangkap dalam persembunyian yang memalukan di semak-semak.
Ratu Isabella dari Kastilia, sosok yang dikenal dingin dan tak kenal ampun terhadap musuh-musuh imannya, secara mengejutkan memberikan tempat khusus bagi Al-Attar dalam catatan sejarahnya. Dalam surat-surat dan catatan kronik istana, Isabella dan suaminya, Ferdinand, tidak merayakan kematian Al-Attar dengan pesta pora yang menghina. Sebaliknya, ada nada kekaguman yang getir. Isabella mengakui bahwa Al-Attar adalah.
"Seorang tua yang memiliki hati singa muda. Jika seluruh Granada memiliki separuh saja dari keberaniannya, niscaya kita tidak akan pernah melihat gerbang Alhambra."
Tak hanya itu, ia juga menahbis Al-Attar dengan julukan "El Caballero de la Verdad" (Ksatria Kebenaran).
Ratu Isabella memerintahkan agar pedang Al-Attar tidak dilelehkan atau dibuang. Justru ia menganggap pedang itu sebagai simbol keberanian tertinggi. Hingga hari ini, pedang tersebut dipamerkan dengan sangat takzim. Bagi Isabella, memenangkan perang melawan pria seperti Al-Attar adalah pencapaian militer terbesar, bukan karena jumlah pasukannya, tapi karena kualitas jiwanya.
Isabella juga memberikan perlindungan kepada keluarga Al-Attar (termasuk putrinya, Morayma) dengan rasa hormat yang tidak ia berikan kepada para bangsawan Granada lainnya. Ia melihat dalam diri Al-Attar sebuah cerminan dari kode etik ksatria (chivalry) yang ia agungkan dalam tradisi Kristen, membuktikan bahwa kehormatan tidak mengenal batas agama.
Hari ini, jika Kisanak berjalan di kota Loja, akan terlihat patung tembaga Ibrahim al-Attar yang tegak menatap langit. Orang Spanyol tidak membangun patung untuk Boabdil sang sultan terakhir—mereka menganggapnya lemah. Mereka justru mendirikan patung untuk musuh yang paling merepotkan Aragon-Kastilia. Ini adalah paradoks sejarah yang indah. Pemenang memang menulis sejarah, tetapi mereka hanya akan mematri nama musuh yang membuat gemetar saat bertarung di medan laga.
Mawar yang Tumbuh di Atas Reruntuhan Granada
Morayma adalah perempuan yang kecantikannya dipuji oleh para penyair Andalusia, namun takdirnya ditulis dengan tinta air mata dan darah. Ia berdiri di persimpangan yang musykil. Di satu sisi ayahnya, sang pahlawan suci; di sisi lain adalah suaminya, Boabdil, sultan terakhir yang oleh sejarah dicap sebagai pecundang.
Di istana Alhambra yang megah namun mencekam itu, Morayma, yang menikah dengan Boabdil pada usia muda, bukan sekadar permaisuri, namun pengikat kesetiaan antara klan Al-Attar yang perkasa dengan takhta Nasrid yang mulai goyah. Saat berita Pertempuran Lucena sampai ke telinganya, dunia Morayma runtuh dalam dua hantaman sekaligus. Sosok pelindung setianya, Ibrahim al-Attar, gugur dengan gagah berani. Suaminya, Boabdil, tertangkap oleh musuh dalam keadaan yang memalukan—bersembunyi di semak-semak—dan menjadi tawanan Ratu Isabella.
Di titik ini, Morayma terjepit. Ia harus berkabung untuk ayahnya yang syahid, sementara ia dipaksa melakukan negosiasi dengan musuh (Isabella dan Ferdinand) demi menebus suaminya yang "lemah". Ratu Isabella, yang cerdik dan dingin, tahu bahwa kelemahan Boabdil adalah cintanya pada Morayma. Namun, ada harga yang jauh lebih mahal untuk kebebasan Boabdil: anak-anak mereka. Isabella menuntut agar putra sulung Morayma, Ahmed, diserahkan sebagai sandera di istana Kristen sebagai jaminan kesetiaan Boabdil.
Maka Morayma harus menyaksikan putranya dibawa pergi untuk dididik sebagai seorang "Spanyol" yang dikristenkan, sementara suaminya terus melakukan kompromi-kompromi politik yang meruntuhkan benteng-benteng terakhir Granada—benteng yang dahulu dibela ayahnya dengan nyawa.
Ada sebuah momen menyayat hati dalam catatan sejarah lokal. Morayma sering terlihat menatap ke arah Loja, kota ayahnya, dengan tatapan kosong. Ia tahu bahwa setiap jengkal tanah yang diserahkan Boabdil kepada Kastilia, adalah tanah yang pernah dibasahi darah ayahnya. Tapi ia tetap setia pada suaminya hingga akhir, namun itu adalah kesetiaan yang sunyi dan sarat duka. Ia tidak pernah memaafkan "kelembekan" suaminya, namun ia juga tidak bisa meninggalkan lelaki yang menjadi ayah dari anak-anaknya yang hilang.
Saat Granada akhirnya jatuh pada 1492, Morayma ikut dalam iring-iringan pengasingan menuju pegunungan Alpujarras. Saat itu, barangkali ia adalah wanita yang paling kehilangan. Ia kehilangan ayahnya (Ibrahim al-Attar). Ia kehilangan anak-anaknya (yang tetap menjadi sandera dan dikonversi ke Kristen). Ia juga kehilangan tanah airnya tercinta. Hanya beberapa hari sebelum Boabdil akhirnya berlayar menuju Afrika Utara (Maghribi), Morayma pun wafat. Tubuhnya yang rapuh karena kesedihan yang bertubi-tubi, tak sanggup lagi menahan beban sejarah. Ia dimakamkan di sebuah masjid kecil di desa Mondújar.
Hingga hari ini, sosok Morayma dianggap sebagai simbol tragedi kemanusiaan di balik perang besar. Jika ayahnya, Al-Attar, adalah simbol maskulinitas perlawanan, maka Morayma adalah simbol feminitas yang dikorbankan. Orang Spanyol menyebutnya "La triste Morayma" (Morayma yang Sedih). Namanya diabadikan dalam berbagai puisi dan opera sebagai pengingat bahwa dalam setiap penaklukan, ada hati yang hancur berkeping-keping di antara dua kutub kesetiaan. []