Mohammad Iqbal, sastrawan dan filsuf Muslim akhir abad 20, pernah berpesan: bacalah Al-Qur’an seakan ia turun kepadamu saat ini. Pesan ini mengingatkan kita bahwa setiap kali kita membaca Al-Quran selaiknya melahirkan kesadaran bahwa teks itu hadir untuk kita, sepanjang masa. Ia bukan usang karena turun di padang pasir era abad tujuh, lima belas abad lalu.
Pada masa awal-awal Al-Qur’an diwahyukan di Mekah, ia memberikan pesan utama kepada Nabi Muhammad, perbaikan umat manusia dan membangun moral dan peradaban umat yang maslahat.
Inilah inti tugas profetik kerasulan Muhammad.
Dan tugas ini dimulai dari satu perenungan tentang luka: ketidakadilan yang dibiarkan menjadi kebiasaan. Maka, Nuzulul Qur’an adalah saat ketika luka itu dipanggil, diberi nama, dan ditantang agar kita memperbaikinya.
Saat ayat kali pertama turun, Mekah tampak makmur. Kafilah lewat, pasar penuh, Ka‘bah dikerumuni. Tetapi di sela hiruk pikuk: budak tanpa nama dan nasib, anak yatim di pinggir pintu, perempuan yang suara dan nasibnya diatur orang lain. Ketimpangan merapat ke tubuh kota seperti bayangan yang tak lagi disadari. Dan kemakmuran ekonomi milik bagi yang kuasa dan kaya.
Ayat pertama turun bukan di pusat kuasa, tetapi di sebuah gua. Bukan kepada ahli huruf, tetapi kepada seorang yang disebut ummi. Perintahnya singkat: “Bacalah.” Ini bukan undangan lembut, ini hentakan dan perintah.
Pesan implisitnya di masa kini adalah bacalah dunia yang kalian biarkan tak terbaca: wajah-wajah lelah, hak yang diperkosa, doa yang dipakai menutup kezaliman. Bacalah dirimu yang terlalu mudah berdamai dengan ketimpangan.
Sejak kalimat pertama, Al-Quran menolak menjadi pelarian. Ia memaksa manusia menatap realitas. “Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ketika ia merasa cukup.”
Di situ kita dipaksa jujur: siapa yang hari ini merasa cukup, merasa aman, lalu mengira dunia juga aman? Siapa yang mengira rumahnya rapi, lalu menyimpulkan sejarah pun baik-baik saja?
Tapi ingatlah, wahyu tak berhenti pada perintah membaca, tetapi juga melakukan aksi, gerakan nyata. “Hai yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan.”
Ayat ini memutus kenyamanan batin dengan bergerak. Selimut yang mengekang dan mempersempit ruang gerak itu bisa berupa ibadah yang tenang, reputasi yang aman, posisi yang mapan.
Perintahnya jelas: bangun. Keluar. Bicara. Sampaikan bahwa ada yang tidak beres dengan cara kita mengelola manusia, alam dan kekuasaan.
Narasi dalam QS. Al-Muddatstsir ini mengajarkan satu hal yang tajam: iman tanpa keberanian hanya akan jadi dekorasi. Mensucikan pakaian bukan sekadar mencuci kain, tetapi membersihkan amal dari kepentingan, membersihkan kata-kata dari kebohongan, membersihkan agama dari fungsi sebagai stempel kekuasaan. Menjauhi berhala bukan hanya menjauhi patung, tetapi segala yang kita biarkan menguasai hidup orang lain: uang, status, jabatan, lembaga, bahkan ayat yang dipelintir.
Sejak ayat-ayat Makkiyah, Al-Quran sudah memilih posisi. Ia berpihak pada yang disisihkan. Ia mengecam penumpuk harta, penindas yatim, dan mereka yang beribadah di depan mimbar sementara di belakangnya orang lapar dibiarkan.
Di situ tugas kerasulan menjadi sangat jelas: melawan kepongahan kekuasaan yang korup, menegakkan prinsip moral keadilan, dan mengatakan kebenaran ketika kebenaran paling tidak diinginkan.
Sekali lagi, Mohammad Iqbal mengingatkan, wahyu tidak datang untuk menidurkan manusia, tetapi untuk membangunkannya. Iman bukan pasrah yang lesu, melainkan kesediaan memikul tanggung jawab sejarah.
Kalau setelah nuzulul Quran kita tetap menunduk di hadapan ketidakadilan, apa makna “bacalah” yang saban tahun kita rayakan?
Secara radikal Ali Syariati mengingatkan kita. Kata dia, tauhid sebagai penolakan terhadap semua “tuhan kecil” di bumi. Kalimat “tiada tuhan selain Allah” berarti: tak ada kelas sosial, sistem, negara, uang, atau figur yang berhak mengendalikan martabat manusia seolah-olah ia Tuhan.
Di titik ini, kerasulan adalah sikap paling politis sekaligus paling spiritual: tunduk hanya kepada Allah, dan karena itu menolak tunduk kepada kekuasaan yang menginjak yang lemah.
Kita hidup jauh dari Mekah abad ketujuh, tetapi pola yang sama bisa berulang. Kekuasaan kini bisa hadir dalam bentuk angka, regulasi, algoritma, korporasi. Namun luka sosialnya serupa: jurang kaya-miskin, suara yang disensor, hak yang dipangkas atas nama stabilitas.
Di hadapan itu semua, nuzulul Quran berpotensi tinggal seremoni: tilawah yang merdu, spanduk yang rapi, sambutan yang aman. Padahal wahyu pertama turun bukan untuk menambah acara, tetapi mengubah arah, dan memperbaiki dunia, menabur maslahat untuk manusia.
Maka, apa yang sebenarnya kita rayakan ketika memperingati malam turunnya Al-Quran? Teksnya, atau keberanian moralnya?
Sejauh mana ayat-ayat awal itu menggerakkan kita keluar dari selimut nyaman, memaksa kita bertanya: siapa yang hari ini kita biarkan tersisih? Di mana kita berdiri ketika kebijakan dibuat? Di pihak siapa agama kita bekerja?
Tugas utama kerasulan adalah membaca dunia dengan jujur, berdiri tegak di tengahnya, dan menolak diam ketika keadilan diinjak.
Nuzulul Quran hanya akan menggetarkan batin jika kita rela diusik oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Jika tidak, kita hanya menggantungkan ayat di dinding, sementara pesan paling tajamnya jatuh di lantai.[]