Oleh Al-Idrisi peta dihadapkan ke selatan, ke Makkah, sebagai simbol supaya manusia amanah menjadi khalifah. Kini bergeser menghadap utara, orientasinya ke duniawi, kekuasaan, manusia menjadi rakus.
Di aula istana Palermo, udara Mediterania sedang berbau logam dan lilin. Tahun itu 1154. Raja Roger II—penguasa Kristen Norman—duduk menunggu sesuatu yang tak pernah dikerjakan manusia sebelumnya. Di hadapan sang raja, seorang lelaki dari dunia Islam menunduk di atas lempengan perak raksasa. Beratnya hampir 300 pon. Tangannya tidak gemetar.
Namanya Muhammad al-Idrisi. Ia tidak sedang menggambar peta. Ia sedang “memadatkan dunia.”
Bola perak itu dingin. Palu dan pahat berbunyi pelan. Garis pantai muncul, sungai mengular, pegunungan ditegakkan. Di sekelilingnya berserakan catatan: laporan pelaut Andalusia, kisah saudagar Afrika Timur, rute kafilah Sahara, hingga kabar Viking dari utara. Selama lebih dari lima belas tahun, Al-Idrisi menyaring cerita-cerita itu—menimbangnya, membuang yang berlebihan, menyilangkannya satu sama lain. Ia tahu: satu kesaksian tidak pernah cukup.
Ketika selesai, lahirlah Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afaq—dan peta dunia paling akurat yang pernah dimiliki abad ke-12.
Uniknya, peta itu menghadap ke selatan. Bukan karena kesalahan. Dalam tradisi geografi Islam, selatan berada di atas. Makkah—kiblat salat—menjadi pusat orientasi kosmik, bukan karena dominasi politik, tetapi karena arah sujud. Dunia tidak dilihat dari takhta, melainkan dari kerendahan hati.
Berabad-abad kemudian, orientasi ini akan dicurigai. Orang-orang akan berkata; dunia sengaja di balik. Afrika dan dunia Islam sengaja “diturunkan” ke bawah peta modern. Tapi bagi Al-Idrisi, orientasi hanyalah cara berdiri di hadapan bumi. Tidak lebih.
Jika mata kita menelusuri peta itu ke arah utara—yang bagi kita kini berada di bawah—detailnya memudar. Pegunungan kasar. Kota-kota yang jarang. Wilayah itu dingin, sunyi, nyaris tak bernama. Di situlah mitos tumbuh subur.
Sebagian pembaca modern menunjuk wilayah Kaukasus dan berkata: di sinilah tembok Zulkarnain. Ada juga yang menggesernya ke Siberia. Padahal, dalam naskah Al-Idrisi sendiri, kehati-hatian justru terasa. Wilayah dengan data minim digambar minim. Ia tidak menambal ketidaktahuan dengan imajinasi.
Hal serupa terjadi di selatan ekstrem. Dunia digambarkan makin gelap, makin dingin. Bukan Antartika, bukan tembok es raksasa. Dalam ilmu geografi abad pertengahan—baik Islam maupun Eropa—wilayah lintang tinggi memang dianggap sulit dihuni. Dingin ekstrem bukan misteri, melainkan asumsi klimatologis pra-sains modern.
Tetapi kekosongan selalu mengundang cerita.
Di barat, sebuah samudra dibentangkan tanpa kepastian. Bahr az-Zulumat—Laut Kegelapan. Tidak ada monster. Tidak ada gerbang rahasia. Hanya ketakutan pelaut pada batas navigasi.
Samudra Atlantik pada abad ke-12 memang belum dipetakan. Kapal tanpa kompas magnetik yang mumpuni, akan hilang arah. Kegelapan di sini bukan metafisik, melainkan ketiadaan data. Tetapi nama itu—Laut Kegelapan—cukup untuk melahirkan Atlantis, Lemuria, Rudrapada, dan segala daratan yang konon disembunyikan sejarah.
Al-Idrisi sendiri tidak menulis tentang Atlantis. Ia hanya jujur pada batas pengetahuan zamannya.
Keajaiban justru muncul di Afrika. Al-Idrisi menandai dua danau besar sebagai sumber Sungai Nil. Berabad-abad sebelum ekspedisi Eropa, gambarnya mendekati Danau Victoria dan Danau Tana. Tidak sempurna. Tidak presisi satelit. Tapi mendekati dengan cara yang mencengangkan.
Ia tidak datang ke sana. Ia mengandalkan laporan pedagang Nubia dan Etiopia. Ia menyilangkannya. Memilih versi yang paling masuk akal. Inilah metode ilmiah sebelum istilah itu lahir.
Tidak ada “peta energi bumi.” Tidak ada rahasia kosmik Afrika. Hanya pengetahuan kolektif dunia non-Eropa yang kelak akan dilupakan ketika kolonialisme mendaku diri mereka sebagai awal segala ilmu.
Beberapa kota di peta Al-Idrisi tidak kita kenal hari ini. Bukan karena konspirasi, melainkan karena sejarah kejam pada kota-kota dagang—yang jalurnya berubah, sungainya bergeser, kekuasaan runtuh.
Kota hilang tidak selalu tenggelam oleh banjir besar. Kadangkala hanya ditinggalkan. Peta adalah arsip waktu. Ia menyimpan apa yang hidup pada masanya, bukan apa yang lestari.
Globe perak itu—kekayaan khazanah pikiran manusia itu, tidak bertahan lama. Palermo diguncang pemberontakan. Istana dijarah. Peta itu mungkin dilebur. Mungkin dicuri. Tidak ada bukti ia disimpan Vatikan. Tidak ada dokumen tentang penyitaan rahasia. Hanya tersisa salinan manuskrip—cukup untuk membuat para sejarawan modern tercengang. Karena peta Al-Idrisi lebih akurat daripada peta Eropa mana pun sebelum abad ke-14.
Di situlah ironi sejarah bekerja. Ketika Columbus berlayar, ketika Vasco da Gama menyusuri Afrika, dunia Barat tidak memulai dari nol. Mereka berdiri di atas pengetahuan yang sebagian besar diwariskan dunia Islam—tetapi jarang diakui.
Bukan karena rahasia bumi ingin disembunyikan, melainkan karena sejarah sering ditulis oleh mereka yang datang belakangan—dengan senjata yang lebih unggul.
Aksis Mundi
Apakah Makkah pusat dunia? Secara geografis tidak. Secara simbolik, bisa jadi iya. Al-Idrisi tidak sedang menancapkan bendera kosmik. Ia sedang mengingatkan bahwa peta bukan hanya alat navigasi, tetapi cermin nilai. Dunia bisa digambar dari Roma, Beijing, atau Greenwich. Pertanyaannya bukan di mana pusatnya, melainkan siapa yang kita jadikan titik tolak.
Hari ini, peta Al-Idrisi sering ditarik ke wilayah konspirasi. Atlantis, Ya’juj-Ma’juj, dan Antartika yang tersembunyi. Tetapi justru dengan itu, kita kehilangan keajaiban yang sebenarnya—bahwa pada abad ke-12, seorang Muslim dari Andalusia, yang bekerja di istana Kristen, mampu merangkum dunia dengan kejujuran metodologis yang belum tentu kita miliki hari ini.
Peta itu tidak menyimpan rahasia bumi. Ia menyimpan pelajaran tentang bagaimana pengetahuan seharusnya dibangun, yaitu dengan kesabaran, verifikasi, dan keberanian mengakui batas. Mungkin, itulah sebabnya ia terasa lebih misterius daripada semua teori konspirasi yang digabungkan.
Peta modern hari ini memang tampak lebih lengkap. Garisnya tegas. Warna-warninya rapi. Seolah menjanjikan kepastian. Namun justru di situlah masalah bermula.
Ketika dunia mulai dipetakan dari Greenwich, bumi perlahan berubah menjadi objek. Garis bujur dan lintang bukan lagi alat orientasi batin, melainkan instrumen kendali. Tanah diukur. Laut diberi koordinat. Hutan dijadikan blok konsesi. Sungai dipotong menjadi proyek.
Peta tidak lagi bertanya apa yang boleh, ia hanya menghitung apa yang bisa diambil. Berabad-abad sebelumnya, Muhammad al-Idrisi memahat dunia di atas perak dengan cara berbeda. Ia tidak menyempurnakan peta dengan keberanian palsu. Wilayah yang tak ia pahami dibiarkannya samar. Laut yang belum dikenali diberinya nama yang jujur; Laut Kegelapan.
Hari ini, hampir tak ada ruang kosong di peta kita. Semua telah dinamai. Semua telah diukur. Justru karena itu, semuanya terasa boleh dirusak. Orientasi peta terkini bukan lagi soal estetika. Melainkan soal niat.
Dalam peta Al-Idrisi, dunia menghadap ke selatan—ke arah Makkah. Bukan untuk menegaskan dominasi, melainkan untuk mengingatkan bahwa manusia hidup dengan arah, dengan batas, dengan kiblat moral.
Peta modern membalik itu. Dunia menghadap ke utara—ke pusat industri, modal, dan kuasa. Sejak saat itu, bumi tidak lagi dilihat sebagai amanah, melainkan sebagai cadangan sumber daya.
Afrika diperkecil. Samudra dipisahkan menjadi jalur dagang. Hutan tropis berubah menjadi “lahan kosong” dalam legenda peta—siap diisi oleh apa pun yang menguntungkan.
Peta tidak berbohong. Ia hanya mengikuti siapa yang memegang pena. Dalam peta Al-Idrisi, ruang kosong adalah bentuk etika. Ia menandai keterbatasan manusia. Dalam peta modern, ruang kosong dianggap kegagalan. Maka ia dihapus. Hutan ulayat dipetakan ulang sebagai wilayah negara. Padang rumput diberi nomor izin. Laut dibagi menjadi zona ekonomi eksklusif.
Di situlah krisis ekologi mulai sistemik. Karena ketika tidak ada lagi ruang yang “belum kita pahami,” maka tidak ada lagi yang kita segani. Alam tidak lagi memiliki hak untuk tidak disentuh.
Bahr az-Zulumat hari ini bukan lagi wilayah yang ditakuti. Tapi wilayah yang telah dieksploitasi. Samudra yang dulu dihindari kini disarati kapal raksasa, tumpahan minyak, dan mikroplastik yang tidak pernah kembali ke darat. Laut kehilangan kegelapannya—bukan karena kita memahaminya, tetapi karena kita menguasainya secara membabi buta. Ironisnya, semakin terang peta kita, semakin gelap masa depan ekologi.
Al-Idrisi memetakan Afrika dari cerita orang Afrika. Peta modern memetakan Afrika dari kebutuhan industri. Sungai Nil yang dulu dipahami sebagai nadi kehidupan, kini dibendung tanpa mendengar ritme ekologinya. Danau dikeringkan. Hutan ditebang. Peta pembangunan terus diperbarui, tetapi tanah semakin kehilangan ingatan.
Di sinilah perbedaan paling tajam antara dua cara memetakan dunia: yang satu mendengar sebelum menggambar, yang lain menggambar untuk membenarkan pengambilan.
Kota-kota di peta Al-Idrisi hilang karena sejarah. Kota-kota hari ini akan hilang karena krisis iklim. Banjir pesisir. Gurun yang meluas. Pulau yang tenggelam. Semua itu sudah ada di peta ilmiah modern—dengan presisi yang menakutkan.
Namun peta itu tetap dingin. Ia mencatat, bukan memperingatkan secara moral.
Peta Al-Idrisi mungkin tidak sempurna secara teknis, tetapi ia mengandung sesuatu yang tidak dimiliki peta modern: rasa takzim. Ia tahu bahwa bumi bukan milik manusia. Ia tahu bahwa pengetahuan harus berjalan bersama adab.
Krisis ekologi hari ini bukan karena kita kekurangan data. Ia lahir karena kita kehilangan cara memandang. Kita tahu suhu naik. Kita tahu laut memanas. Kita tahu hutan hilang. Tetapi peta kita tidak pernah bertanya: sampai di mana seharusnya kita berhenti?
Mungkin yang kita butuhkan bukan peta baru, melainkan cara membaca yang lama. Sementara Al-Idrisi, membiarkan yang belum dipahami tetap sunyi, mengakui batas manusia, dan menempatkan pusat orientasi pada nilai, bukan keuntungan.
Selama peta hanya menjadi alat ekspansi, krisis ekologi akan terus dianggap “efek samping.” Tetapi jika peta kembali menjadi cermin spiritual—yang mengingatkan bahwa manusia hanyalah penumpang—maka barangkali bumi masih punya waktu.
Peta tidak akan menyelamatkan dunia. Tetapi cara kita memetakan dunia akan menentukan apakah bumi masih layak diwariskan. Mungkin, di situlah pesan terdalam peta Al-Idrisi bersemayam—bahwa bumi tidak meminta untuk ditaklukkan, ia hanya meminta untuk dikenali dengan rendah hati.
Dalam Al-Qur’an, manusia tidak pernah disebut pemilik bumi. Ia disebut khalifah.
Kata itu sering dibaca dengan nada kuasa, padahal akar maknanya justru pengganti yang bertanggung jawab. Khalifah bukan raja. Ia adalah penjaga yang akan dimintai pertanggungjawaban ketika Sang Pemilik Sejati kembali bertanya.
Langit, bumi, gunung, dan laut menolak amanah itu—kata Al-Qur’an—bukan karena mereka lemah, tetapi karena mereka tahu risikonya (QS. al-Ahzab [33]: 72). Manusialah yang menerimanya, dengan segala kerapuhan dan kesombongannya.
Amanah itu bukan hanya salat dan puasa. Tapi air yang tidak dimonopoli. Tanah yang tidak dirampas. Hutan yang tidak dihabisi atas nama pembangunan.
Ketika Al-Idrisi membiarkan ruang kosong di petanya, ia sedang mempraktikkan amanah dalam bentuk paling sunyi, yaitu menahan diri. Ia tahu, tidak semua yang bisa dipetakan harus segera dimiliki.
Hari ini, kita melakukan sebaliknya. Kita memetakan segalanya agar bisa mengambil segalanya. Di situlah fasād bermula. Al-Qur’an tidak menyebut fasad sebagai bencana alam semata. Ia menyebutnya sebagai akibat perbuatan manusia—kerusakan yang menjalar dari moral ke tanah, dari keserakahan ke iklim (QS. ar-Rūm: 41).
Bumi tidak rusak karena ia rapuh. Ia rusak karena manusia lupa bahwa ia hanya tamu. Khalifah yang lupa amanah akan mengira peta sebagai sertifikat kepemilikan. Padahal peta seharusnya menjadi pengingat batas.
Jika dunia hari ini terasa panas, laut terasa marah, dan tanah terasa lelah, mungkin itu bukan hukuman langit, melainkan peringatan yang terlalu lama kita abaikan.
Islam ekologis tidak menuntut kita kembali ke masa lalu. Ia menuntut kita mengoreksi arah. Mengembalikan orientasi—bukan pada utara kekuasaan, tetapi pada kiblat tanggung jawab.
Memetakan bumi adalah ibadah, jika dilakukan dengan adab. Membangun peradaban adalah amal, jika tidak memutus kehidupan. Menjadi khalifah bukan berarti berdiri di pusat peta, melainkan tahu kapan harus menyingkir, berhenti, dan menjaga.
Mungkin, jika kita membaca ulang peta dunia dengan kesadaran ini, bumi akan kembali menjadi ayat—bukan sekadar aset. Manusia, sekali lagi, harus belajar berjalan di atasnya dengan rendah hati.
Ren Muhammad adalah pendiri Khatulistiwamuda dan penulis buku. Tinggal di Jakarta, menjabat Ketua Bidang Program Yayasan Aku dan Sukarno, serta Direktur Eksekutif di Candra Malik Institut.
Tarikh | 04.06.2021
Dengan apa orang bisa membedakan diri mereka dari orang lain, dan pada gilirannya diidentifikasi sebagai sebuah kelompok tertentu?
Tarikh | 22.09.2017
Tarikh | 09.10.2017