Riwayat puasa, sebagai salah satu pilar keagamaan yang paling purba, bukan sekadar ritual fisik belaka, melainkan perjalanan ruhani yang menyatukan kita dengan leluhur spiritual manusia. Mari kita telusuri kembali riwayat yang disampaikan melalui rantai emas para pewaris kenabian, dari Imam al-Hasan bin ʻAli bin Abi Thalib—semoga salam sejahtera tercurah atasnya—yang meriwayatkan dari datuknya, Rasūlullāh Muḥammad Saw.
Riwayat ini, yang tercatat dalam sumber-sumber klasik seperti Bihar al-Anwar karya Allamah Majlisi (sebuah ensiklopedia hadis yang mengumpulkan ribuan narasi otentik dari abad ke-17), mengungkap dialog mendalam antara Nabi Saw dengan seorang Yahudi—yang tak hanya menjawab pertanyaan tentang durasi puasa, tapi juga membuka tabir tentang hikmah dibaliknya.
Saat itu di Madinah, datang seorang Yahudi mendekati Rasūlullāh dengan rasa ingin tahu yang tulus, atau mungkin ujian yang tersembunyi. "Wahai Muḥammad," katanya, "Mengapa Allāh Yang Maha Kuasa mewajibkan puasa bagi umatmu hanya selama tiga puluh hari di siang hari, sementara bagi umat-umat sebelumnya, Dia mewajibkan lebih dari itu?"
Pertanyaan ini bukan sekadar rasa penasaran, tapi mencerminkan tradisi Yahudi yang puasa panjang, seperti puasa Mūsā selama empat puluh hari di Gunung Sinai, sebagaimana diceritakan dalam Kitab Keluaran dalam Taurat. Dalam Tafsir Ibnu Kaṡir—puasa umat terdahulu memang lebih beragam: Nabi Dawud as berpuasa selang-seling (sehari puasa, sehari tidak), sementara Nabi Nūḥ as dan umatnya berpuasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan dari banjir raya. Bahkan, dalam riwayat yang dikumpulkan oleh Imam Bukhari, puasa Asyura (10 Muharram) awalnya wajib bagi umat Islam sebagai penghormatan atas penyelamatan Mūsā as dari kejaran Fir’aun.
Dari tinjauan Perennial—filsafat abadi yang melihat esensi spiritual universal di balik semua agama, sebagaimana dikemukakan oleh pemikir seperti Aldous Huxley dalam "The Perennial Philosophy" (1945) atau Frithjof Schuon dalam karyanya tentang metafisika transenden—puasa bukanlah milik satu tradisi saja. puasa bukan semata menahan makan-minum karena sejarah Nabi Ādam, melainkan sebuah proses Involusi—kembalinya sang mikrokosmos (manusia) ke pusat primordialnya.
“Buah dunia” yang dimakan Ādam bukan sekadar zahiriah, melainkan simbolisasi dari keinginan yang memenjarakan jiwa manusia ke dalam ruang-waktu. Ibn 'Arabi dalam Fuṣūṣ al-Ḥikam memandang bahwa setiap makanan yang masuk ke tubuh, menjadi bagian dari "kepadatan" hijab. Rasūlullāh menjelaskan bahwa sisa buah itu menetap selama 30 hari, yang artinya sama dengan satu siklus penuh bulan.
Puasa Ramadan adalah upaya dekonstruksi biologis. Manusia harus mengosongkan diri selama satu siklus waktu penuh agar pengaruh "bumi" (makanan-minuman) luruh, dan cahaya "langit" (ruh) kembali dominan.
Puasa juga merupakan praktik primordial yang muncul di berbagai budaya: dalam Hindu, upavasa selama Navratri membersihkan jiwa untuk mendekat pada Brahman; dalam Kristen, puasa Lent selama empat puluh hari mengikuti teladan Yesus di padang gurun, sebagai jalan menuju pencerahan ruhani; bahkan dalam tradisi indigene seperti puasa visi suku asli Amerika, ia menjadi portal ke realitas lebih tinggi. Di sini, durasi puasa Ramadan yang "ringkas" mencerminkan esensi abadi: bukan kuantitas hari, tapi kualitas transformasi batin, yang menyatukan manusia dengan Hakikat Mutlak, apa pun nama-Nya.
Rasūlullāh Saw, dengan kebijaksanaan selaik sungai jernih yang mengalir tenang, menjawab: "Ketika Ādam—semoga salam sejahtera atasnya—memakan buah dari pohon terlarang di Surga, saripati buah itu mendekam di perutnya selama tiga puluh hari. Oleh karena itu, Allāh Yang Maha Bijaksana mewajibkan rasa lapar dan haus bagi keturunannya selama tiga puluh hari, sebagai penebusan simbolis. Namun, apa yang mereka santap di malam hari adalah karunia dari-Nya, sebagaimana yang dialami Ādam sendiri."
Al-Qur’ān merekam kejadian itu dalam tiga surah berbeda: Al-Baqarah (2): 35-36, Al-Aʻraf (7): 20-22, dan Ṭhaha (20): 120-121. Sebagai catatan, hanya dalam Ṭhaha saja kita bisa menemukan nama dari pohon itu. Menariknya, Al-Qur’ān tidak pernah menyebut nama buah tersebut sebagai apel atau jenis buah tertentu lainnya. Al-Qur’ān hanya menyebutnya sebagai syajarah (pohon). Nama "Khuldi" itu, adalah nama yang diberikan oleh Iblis sebagai bagian dari tipu dayanya, bukan nama resmi dari Allāh.
فَوَسْوَسَ اِلَيْهِ الشَّيْطٰنُ قَالَ يٰٓاٰدَمُ هَلْ اَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلٰى ١٢٠
Fa waswasa ilaihisy-syaithânu qâla yâ âdamu hal adulluka ‘alâ syajaratil-khuldi wa mulkil lâ yablâ.
“Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya. Ia berkata, “Wahai Ādam, maukah aku tunjukkan kepĀdamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
Jawaban yang diberikan Rasūlullāh Saw itu bukan hanya fakta sejarah, melainkan pelajaran tentang keseimbangan. Dalam perspektif tradisional, kisah Ādam ini adalah alegori universal tentang jatuhnya manusia dari keadaan primordial ke dunia material, mirip dengan mitos Yunani tentang Pandora atau cerita Hindu tentang Maya yang menyelubungi Atman. Puasa, dengan demikian, adalah jalan kembali ke asal—membersihkan "buah terlarang" dari ego, sebagaimana dijelaskan oleh Rene Guenon dalam Man and His Becoming According to the Vedanta (1925), di mana puasa melambangkan pelepasan dari ilusi duniawi untuk mencapai kesatuan dengan Yang Ilahi.