Media sosial bisa dikatakan sebagai napas baru dalam kehidupan kita hari ini. Hampir semua golongan bisa diperkirakan punya media sosial. Sebagai suatu fenomena, hal tersebut berimplikasi pada meleburnya batas-batas yang sebelumnya sulit kita bayangkan. Demikian juga dengan segala macam pemikiran dari segala tempat dan zaman masuk ke dalam gelembung besar bernama media sosial. Hal ini menandai beberapa hal. Pertama, segala urusan tidak relevan lagi dibicarakan hanya berbekal batas-batas imajiner yang selama ini kita bayangkan. Kedua, setiap orang tampaknya bebas menyuarakan apa yang ingin dikemukakan. Gejala kedua ini tampaknya menjadi angin segar bagi demokrasi tapi fenomena di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Persoalan yang menjadi masalah datang dari meleburnya batas-batas itu sendiri. Setiap orang tampaknya bebas menyuarakan isi pikiran mereka yang sebetulnya tidak bebas-bebas amat. Timbul kekacauan yang diakibatkan oleh terburu-burunya segala sesuatu dapat diperoleh dan dibagikan. Alam pikir masyarakat masih belum bisa merangkak lebih jauh dari sekedar mengetahui banyak perkara. Hal itu senada dengan yang disampaikan Bung Joko Priyono dalam tulisan Omon, Omon, dan Omon soal anti-intelektualisme yang sekarang mewabah diakibatkan massifnya kampanye berbasis sensasi.
Artinya peran logika dan penalaran kritis masih jauh dari kata ideal bagi sebagian masyarakat yang hari ini memiliki andil dalam menentukan arah bangsa ke depannya. Tantangan ini tampaknya tidak pernah digarap serius sebagai suatu proyek orang-orang yang berkepentingan. Misalnya di zaman dulu ada program yang disebut Pemberantasan Buta Huruf. Saya membayangkan diadakan juga semacam program yang lebih lanjut dari sekadar itu. Bolehlah misalnya orang-orang yang memegang media sosial itu dapat dibekali program yang dinamakan Pemberantasan Cacat Nalar. Meskipun angan semacam itu terlalu naif tetapi memang begitulah semestinya. Meskipun hal itu naif dan berlebihan, setidaknya dapat kita sepakati bahwa gejala wacana sensasional tengah menjangkiti ruang sosial kita hari ini
Sebagaimana diketahui jumlah pengguna medsos terutama TikTok kian hari semakin membludak. Akses yang mudah dan kenyamanan memperoleh informasi dengan singkat memikat hati banyak orang. Dalam hal ini tulisan dengan bobot seberat apa pun akan tetap kalah dengan narasi sensasional yang terus digaungkan algoritma. Hal itu diduga menjadi penyebab dari sikap anti intelektualisme masyarakat yang cenderung naif dan bebal. Kekhawatiran akan fenomena ini bolehlah dilebih-lebihkan sebab ia membahayakan kehidupan demokrasi. Orang yang memiliki kunci kendali algoritma menguasai isi kepala banyak orang. Sehingga semua orang dapat digerakkan dengan strategi yang bukan main mudahnya tetapi juga bukan main daya destruktifnya.
Contohnya waktu pilpres 2024, ketika muncul reaksi keras dari sejumlah perguruan tinggi ternama atas sikap ugal-ugalan pemerintah dalam memainkan kekuasaan. Kritik mereka tentang etika bernegara, marwah demokrasi, dan kekhawatiran terhadap penyalahgunaan kekuasaan dalam pemilu. Namun, bagaimana respons yang kemudian muncul di kolom komentar? sangat menjengkelkan dan bikin gusar yang membacanya. Bayangkan bila sikap tegas para akademisi itu ditanggapi negatif oleh para pemengaruh (buzzer). Mereka membikin narasi seolah kampus-kampus itu mulai bermain politik praktis dan dimotori oleh kepentingan melawan paslon tertentu. Akibatnya ada banyak orang yang terpengaruh cara pandang yang anti-intelektualisme itu. Sebabnya pertama alam pikiran orang-orang sudah kadung dibentuk menjadi fanatik. Kedua, mereka merasa benar karena hampir setiap orang dalam barisan mereka, juga melakukannya.
Hal itu jelas sebentuk cacat nalar seperti yang dikemukakan Pak Fahrudin Faiz dalam Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika (2020) bahwa kebenaran tidak bekerja hanya karena banyak orang menganggap sesuatu itu sebagai kebenaran. Kemudian muncul narasi bahwa kampus dianggap tidak usah ikut campur masalah politik dan hanya boleh berdiam diri di ujung menara gading mendidik mahasiswanya menjadi sekrup industri. Sayangnya hal itu akan sangat mudah diamini oleh orang-orang yang dalam kerangka kepalanya tidak terpasang sedikit pun pemahaman kritis. Contohnya kini kita mengenal istilah konten savage sebagai bentuk potongan singkat pernyataan yang dianggap keren dan berbobot padahal jauh dari substansi sesuatu apa.
Barangkali memang tidak ada sesuatu yang baru di bawah kolong langit ini. Berpuluh-puluh tahun lalu Mochtar Lubis pernah mengungkapkan ciri-ciri Manusia Indonesia (2001) yang hampir semuanya bernuansa negatif. Sikap bebal yang percaya takhayul misalnya berubah bentuk dan mode sehingga tidak lagi kepercayaan takhayul itu diarahkan pada benda-benda klenik. Takhayul itu kini berganti referensi ke arah narasi-narasi politik yang seolah hendak menyongsong Indonesia emas 2045. Semacam takhayul yang menina-bobokan orang-orang dalam tidur lelap sehingga bermimpi basah soal Indonesia maju.