Pesantren Darul Ulum Jombang yang berdiri sejak tahun 1885 M atau dalam hitungan kalender hijriah berdiri pada tanggal 27 Rajab 1302 H merupakan pesantren tua yang didirikan oleh Kiai Tamim Irsyad yang berasal dari Bangkalan Madura. Pesantren yang kini berusia 145 tahun tersebut tentu melahirkan berbagai tokoh nasional dan ulama’, mulai dari KH. Utsman Al Ishaqi Jatipurwo, Ky. Shobiburrahman Jepara, KH. Maksum Ja’far Porong, KH. Imron Hamzah, KH. Sholeh Qosim Sepanjang, KH. Husein Ilyas Mojokerto, KH. Yusuf Masyhar Tebuireng, dan KH. Masduqi Abdurrahman Al Hafidz Perak. Namun dari tokoh – tokoh tersebut, sosok pemikir Islam yang bernama Cak Nur atau Dr. Nurcholis Madjid sering kali terlupakan.
Meskipun hanya pernah nyantri selama dua tahun dan dilanjutkan di Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Beliau mengenang memori indah saat nyantri di dalam autobiografi nya yang tidak diterbitkan, namun disebutkan dalam sebuah buku hasil pemikirannya yang ditulis oleh Ihsan Ali Fauzi berjudul “Demi Islam, Demi Indonesia”. Cak Nur menggambarkan bahwa tatkala baru saja tiba di Pesantren Gontor, terdapat perbedaan kultural santri yang sangat kentara sekali.
Jika kala itu saat di Rejoso ia menemui para santri bermain bola dan berolahraga menggunakan sarung, namun saat di Gontor para santri disana memakai celana traning. Hal lain yang terkenang dalam benak Cak Nur mengenai Pesantren Darul Ulum adalah model kepemimpinan para kiai pengasuh pesantren yang secara bergilir menjadi imam shalat rawatib. Mungkin hal ini tidak didapati oleh Cak Nur di Gontor, dikarenakan yang memimpin shalat adalah para asatidz atau santri senior.
Dalam catatan autobiografinya, Cak Nur menggambarkan bahwa apabila Gontor memiliki “Trimurti” pengasuh pesantren yang terdiri dari KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fannanie, dan KH. Imam Zarkasyi, maka di Pesantren Rejoso sosok pengasuh “Trimurti” tersebut terekam dalam pola keteladanannya dalam memimpin jama’ah shalat rawatib. Beliau adalah KH. Dahlan Cholil yang merupakan ulama’ ahlul Qur’an jebolan Madrasah Shaulatiyyah dan Madrasah Darul Ulum Makkah ini memimpin shalat di waktu dzuhur dan Isya’.
Kemudian ada KH. Romly Tamim, ulama’ sufi yang meneruskan estafet kepemimpinan Mursyid TQN dari kakak iparnya (KH. Cholil Juraimi / ayah Kiai Dahlan) memimpin shalat di waktu subuh dan ashar. Dan yang terakhir adalah KH. Umar Tamim, adik Kiai Romly yang berprofesi sebagai petani dan imam khususiyah ini memimpin shalat di waktu Maghrib.
Hal lain yang terkenang dalam pribadi Cak Nur adalah pengajian yang diampu oleh para Kiai di pondok pesantren Darul Ulum tiap pasca shalat rawatib. Jika Kiai Dahlan memberikan kuliah tafsir dengan menggunakan Tafsir Jalalain tiap ba’da Isya yang kini diteruskan oleh salah satu putranya, Drs. KH. Cholil Dahlan. Maka Kiai Romly pasca shalat subuh sehabis pembacaan istighosah berupa kultum atau kuliah tujuh menit.
Dalam kultum tersebut, nasehat atau wejangan yang membekas di hati Cak Nur adalah, “Anak-anak… kamu jangan coba-coba berbuat maksiat, sebab maksiat itu racun. Lama kelamaan akan terasa enak”. Lalu Kiai Romly memberikan tamsil atau perumpamaan, “Maksiat itu sama dengan orang merokok. Tembakau itu kan racun, coba kasih tembakau itu ke tokek. Nanti tokeknya akan mati. Tetapi, karena orang membiasakannya akhirnya merokok itu enak. Nah, maksiat juga begitu”. Itu nasehat daripada Kiai Romly Tamim yang dikenang dalam benak Cak Nur.
Waba’du, di usia pesantren Darul Ulum yang menginjak 145 tahun menurut penanggalan hijriah, maka pesantren ini di kemudian hari berkembang menyesuaikan zaman dan kebutuhannya dengan tidak meninggalkan pilar-pilar yang telah dibangun oleh pendahulunya dan dari kenangan memori indah Cak Nur tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwasannya konsep mendidik santri secara bil haal (dengan mencontohkan secara langsung) terbukti cukup efektif untuk memberikan kesan tersendiri pada benak para santri. Walau terkadang berat untuk diistiqomahkan. Wallahu a’lam.