Gus Dur pernah menyatakan kalau karya Syed Naquib Al-Attas ini perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bagaimana sosok dan jejak intelektualnya?
Bencana keuangan yang terjadi di New York pada 24 Oktober 1929 menjadi badai besar dan menggulung ekonomi dunia. Era depresi ekonomi yang membuat kondisi hidup banyak orang di berbagai penjuru bumi anjlok, termasuk di Hindia Belanda. Orang-orang di masa itu menyebutnya sebagai Zaman Meleset. Dekade 1930an dilewati penduduk di wilayah jajahan dalam situasi yang jauh dari ketenangan zaman normal sebelum krisis terjadi. Pada periode inilah, tepatnya pada tanggal 5 September 1931 Syed Muhammad Naquib Al-Attas lahir di Bogor.
Al-Attas lahir dari latar belakang keluarga kalangan elite, dari pihak ayah ia memiliki seorang kakek yang masyhur di masyarakat Nusantara sebagai Habib Empang Bogor yang bernama asli Abdullah bin Muhsin bin Muhammad Al-Attas. Sementara ibunya berasal dari keluarga ningrat Arab-Sunda yang masih berkerabat dengan Sultan Johor. Dengan profil keluarga seperti itulah Naquib Al-Attas tumbuh.
Pada usia lima tahun, karena mungkin disebabkan oleh kondisi krisis di Zaman Meleset, Al-Attas dikirim ke Johor, Malaysia untuk tinggal bersama pamannya dan menjalani pendidikan tingkat dasar di sana. Ia kembali ke tanah kelahirannya saat menjelang era pendudukan Jepang dan menghabiskan sekitar lima tahun untuk belajar di Madrasah Al-‘Urwatul Al-Wutsqa di Sukabumi. Setelah Perang Dunia II berakhir dan Indonesia memasuki babak revolusi kemerdekaan yang penuh dengan huru-hara, Al-Attas kembali pergi ke Johor dan melanjutkan pendidikannya di sana.
Masa sekolahnya di Malaysia inilah yang menjadi dasar baginya untuk menjadi seorang intelektual muslim dengan reputasi besar. Perpustakaan-perpustakaan milik keluarganya menjadi arena petualangannya di usia remaja. Beragam buku sejarah, sastra, dan agama dilahapnya. Bahkan karya-karya klasik dan juga manuskrip kuno turut menjadi konsumsi intelektualnya di masa muda. Namun pada 1951, Al-Attas membuat sebuah keputusan yang menikung. Jauh dari jalan intelektual, ia mendaftarkan dirinya sebagai calon perwira resimen Melayu. Pilihan yang kelak menjadi jalan memutar untuk membawanya kembali pulang pada dunia yang dicintainya.
Dari Barak Militer ke Mistisme Asia Tenggara
Karir militer Al-Attas tidak berlangsung lama, ia lebih banyak menghabiskan masa dinas kemiliterannya di tempat pendidikan tentara di Britania Raya. Pendidikan pertamanya didapatkan dari Eton Hall, Wales dan kemudian melanjutkan pendidikan milternya di Royal Military Academy Sandhurst, Inggris. Di tempat terakhir, ia membaca banyak literatur metafisika tasawuf di perpustakaan kampus. Al-Attas menemukan jalan pulangnya justru di perpustakaan sebuah kampus militer. Sebuah pengalaman yang memberi bekas mendalam dan mengubah karirnya.
Setelah sempat bergabung dengan resimen tentara kerajaan Malaya dalam konfrontasi menghadapi gerakan komunis, Al-Attas akhirnya keluar dari militer dan masuk ke Universitas Malaya pada tahun 1957. Saat kuliah, Al-Attas meneruskan minatnya pada tasawuf dengan melakukan riset berkeliling Malaysia untuk menemui banyak tokoh-tokoh sufi. Kerja penelitian itu kemudian diterbitkan dengan judul Some Aspects of Shusfism as Understood and Practised Among the Malays.
Sejak menekuni dunia akademik, Al-Attas mulai membangun reputasinya dengan menjalin koneksi dengan berbagai cendekiawan muslim dunia. Saat melanjutkan studi di universitas McGill, ia berkenalan dengan H. A. R. Gibb, Fazlur Rahman, Seyyed Hossein Nasr, dan Toshihiko Izutsu. Lalu ketika menempuh kuliah doktoral di Inggris, ia menyelesaikan disertasi tentang mistisme Hamzah Fansuri di bawah bimbingan A. J. Arberry dan Martin Lings. Selama belajar di jenjang S3, Al-Attas dekat dengan para orientalis Inggris dan intelektual dari Royal Asiatic Society.
Pada tahun 1965, Al-Attas pulang ke Malaysia dan menghabiskan seluruh masa karir akademiknya di negeri jiran ini. Berbagai jabatan dunia akademik di Malaysia pernah dipikulnya, salah satu yang paling populer adalah saat memimpin International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC). Sebuah kampus yang arsitekturnya didesain sendiri oleh Al-Attas.
Meskipun lebih banyak menghabiskan waktunya di Malaysia, posisi intelektual Al-Attas di panggung internasional tetap terjaga. Berbagai konferensi penting tetap dihadirinya. Bukan hanya di dunia muslim, tapi juga di negara-negara Eropa dan Amerika. Ia pernah menjadi anggota Imperial Iranian Academy of Philosophy bersama dengan Henry Corbin, Seyyed Hossein Nasr dan Toshihiko Izutsu. Dari Pakistan, ia pernah medapatkan Iqbal Centenary Commemorative Medal yang diserahkan oleh Presiden Zia Ul-Haq.
Selain aktif dalam berbagai kegiatan akademik, Al-Attas juga termasuk sebagai intelektual yang relatif produktif menghasilkan karya. Sejak tahun 1959, ia telah menerbitkan puluhan buku sampai karya terakhirnya terbit pada 2023. Beberapa di antara tulisannya diterjemahkan ke dalam bahasa asing selain Melayu dan Inggris, termasuk ke dalam bahasa Indonesia.
Jejak Naquib Al-Attas di Indonesia
Dalam sebuah tulisan pengantar untuk buku “Islam Antara Cita dan Fakta”, terjemahan dari karya Seyyed Hossein Nasr yang terbit pertama kali tahun 1981, Gus Dur memberikan semacam provokasi agar lebih banyak karya dari para intelektual muslim dunia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penerjemahan tersebut dibutuhkan untuk memperkaya wacana keislaman yang berkembang di tanah air.
Alih bahasa berbagai karya dari beragam perspektif tokoh intelektual dunia diperlukan untuk membentuk sikap dewasa dalam menerima perbedaan pandangan yang dihasilkan dari luar Indonesia. Salah satu nama yang disebut oleh Gus Dur, yang karyanya perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Naquib Al-Attas. Gus Dur menulis:
“Hanya dengan kemampuan memahami dan mencerna karya-karya orang lain tentang Islam, kaum muslimin kita dapat mengembangkan kedewasaan pribadi muslim yang diperlukan bagi pembangunan bangsa. Karya-karya para ilmuwan lain seperti Arkoun, Merad, Fazlur Rahman, Alatas, Mahdi dan lain-lainnya lagi, untuk menyebut sejumlah ilmuwan muslim dari berbagai penjuru dunia, patut digiatkan penterjemahannya ke dalam bahasa kita.”
Karya pertama Naquib Al-Attas yang diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia adalah Islam and Secularism yang pertama kali terbit dalam bahasa Inggris tahun 1978. Buku tersebut diterjemahkan menjadi “Islam dan Sekularisme” oleh penerbit Pustaka di Bandung pada tahun 1981. Buku selanjutnya yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia adalah The Concept of Education in Islam yang diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 1984. Mizan juga menerbitkan buku berjudul “Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu” yang naskah awalnya berasal dari pidato pengukuhan Al-Attas sebagai guru besar di Universiti Kebangsaan Malaysia.
Kehadiran buku-buku Al-Attas sepertinya merupakan jembatan yang menghubungkan antara pemikiran cendekiawan Malaysia ini dengan publik pembaca umum di Indonesia. Penerbitan karya-karyanya dalam wacana keislaman ini mungkin bersamaan dengan mekarnya semangat keislaman yang hadir pasca revolusi Iran 1979. Dengan semangat yang menggebu-gebu di antara kelas terdidik di Indonesia tentang kajian Islam, tidak terlalu mengherankan jika pada dekade 1980an sampai 1990an mulai banyak buku keislaman dari intelektual luar negeri yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Karya lain milik Al-Attas yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan mendapat sambutan luas di kalangan sarjana tanah air adalah buku “Islam dan Filsafat Sains” yang diterbitkan oleh Mizan pada 1995. Buku ini memuat pandangannya tentang proyek Islamisasi ilmu pengetahuan yang pernah menjadi pembahasan hangat di kalangan cendikiawan Indonesia. Bersama dengan Ismail Raji Al-Faruqi, Al-Attas menjadi tokoh yang karyanya cukup banyak dirujuk pada saat wacana Islamisasi ilmu ini pernah digandrungi oleh banyak orang.
Kajian Al-Attas tentang Nuruddin Ar-Raniri dan Hamzah Fansuri yang sudah menjadi klasik juga turut menjadikannya akrab dengan para pengkaji wacana Islam Indonesia. Ia tidak membatasi kajiannya hanya dalam sekat alam Melayu, namun turut mengjangkau wilayah Asia Tenggara sehingga menjadikan karya-karyanya relevan dengan para pengkaji Islam Asia Tenggara.
Selain karya-karya yang ditulis langsung oleh Al-Attas, pengaruhnya juga dapat dirasakan dalam cukup banyaknya peredaran buku yang membahas pemikiran seorang alim kelahiran Bogor ini. Bahkan jika ditelusuri dalam mesin pencari di internet, akan didapatkan beragam karya ilmiah dari kampus-kampus di Indonesia yang membahas pemikirannya. Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa ia merupakan salah seorang pemikir besar Islam yang memiliki tempat tersendiri dalam wacana keislaman yang berkembang di negeri ini.
Jaringan Intelektual Al-Attas
Salah satu pola paling umum terjadi yang menjadi mata rantai transmisi ilmu pengetahuan dan jaringan sosial penopangnya adalah relasi antara guru dan murid yang terbangun kuat. Patronase antara guru-murid ini pula yang turut mengukuhkan eksistensi ide-ide Al-Attas dalam dinamika wacana Islam di Indonesia. Sebagai salah seorang intelektual yang cukup menonjol buah pikirnya, tidak sedikit para pencari ilmu di Indonesia tertarik untuk berguru langsung kepada Al-Attas.
Mereka yang ingin berguru langsung pada Al-Attas, mesti mondok langsung ke Malaysia karena ia menghabiskan hampir seluruh karir akademiknya di negeri itu. Meskipun demikian, Al-Attas juga pernah beberapa kali melakukan kontak langsung dengan publik Indonesia. Kedatangannya yang pertama terjadi pada 1971. Kala itu ia datang ke sebuah mimbar ilmiah di Taman Ismail Marzuki untuk memaparkan kajian tentang sejarah sastra Melayu.
Kedatangannya yang kedua ke Indonesia terjadi pada tahun 1979. Pada kesempatan kali ini Al-Attas datang untuk berbicara soal sistem pendidikan Islam. Diundangnya Al-Attas mungkin karena dua tahun sebelumnya ia menjadi salah satu tokoh sentral dalam konferensi pendidikan dunia Islam pertama yang diadakan di Mekah. Dalam konferensi tersebut, ia ditugasi untuk memimpin komite yang merumuskan tujuan dan definisi pendidikan Islam.
Namun kedatangannya yang barangkali paling menarik perhatian publik Indonesia adalah saat dirinya datang ke forum yang dihelat oleh Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) pada Januari 1987. Al-Attas mengkritik ide sekularisasi ala Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Bahkan ia juga menyinggung konsepsi terjemahan “La Ilaha Illallah” dari Cak Nur yang pernah membuat kehebohan masa itu.
Menurut Cak Nur, La Ilaha Illallah perlu dibaca sebagai “tiada tuhan (t huruf kecil) selain Tuhan (dengan huruf besar).” Tuhan dengan huruf t kecil adalah seluruh tuhan yang dikenal manusia, sedangkan Tuhan dengan huruf besar hanya ditujukan kepada Tuhannya kaum tauhid. Bagi Al-Attas cara penafsiran itu keliru, karena Allah tidak bisa diartikan sebagai Tuhan. Dalam pandangannya, tidak ada penafsiran yang memadai dalam bahasa lain untuk menjelaskan maknanya. Lebih jauh, Al-Attas menilai bahwa argumentasi Cak Nur ini bisa muncul karena terpapar gagasan sekuler.
Perdebatan kemudian berlanjut sampai di luar forum. Majalah Panji Masyarakat No. 531 tahun 1987 memuat polemik keduanya. Saling kritik itu terjadi dalam sesi wawancara yang dimuat dalam majalah itu. Al-Attas menyatakan “Mereka ini sudah mengikuti cara-cara Barat, karena itu harus disadarkan bahwa harus berdasarkan nilai-nilai Islam.” Cak Nur menilai bahwa pandangan dan kritik Al-Attas sebenarnya merupakah sebuah ijtihad pula, sebuah usaha untuk menafsirkan ajaran Islam. Cak Nur mengatakan “Apa yang diungkapkan Al-Attas adalah suatu ijtihad juga. Kita harus menghargainya. Dan di mata Tuhan, ia mempunyai kredit tersendiri. Kalau benar ia dapat pahala dua, kalau salah ia dapat satu.”
Episode polemik itu ternyata berlanjut sampai tahun selanjutnya, ketika Al-Attas kembali hadir di Indonesia bulan Oktober 1988. Dalam momen tersebut, Al-Attas memaparkan beberapa klarifikasi dan penjelasan atas polemik yang terjadi setahun sebelumnya. Beberapa penjelasan tentang isu keislaman aktual juga turut dijelaskannya pada kesempatan itu. Namun, diskusi antara Al-Attas dengan Cak Nur tidak berlangsung seperti harapan publik. Cak Nur tidak bisa hadir penuh waktu di acara tersebut sehingga keduanya tidak bisa saling mengomentari dengan leluasa.
Terkait perdebatan antara Al-Attas dan Cak Nur ini, Gus Dur pernah menuliskannya di koran Pelita. Dalam perbedaan antara keduanya dalam tafsiran kalimat “La Ilaha Illallah” Gus Dur memberi komentar, “Mengagumkan, kedua dedengkot bisa berbeda pendapat, namun sama-sama benar.” Senada dengan komentar tersebut, Quraih Shihab yang dalam liputan Panji Masyarakat No. 592 turut hadir dalam diskusi terbuka tahun 1988 menilai “Cak Nur benar, sejauh menyangkut akar kata (semantik), Prof. Naquib Al-Attas benar berkenaan dengan makna, dan kita mengamalkannya.”
Kehadiran Al-Attas dalam polemik dan diskusi dengan para intelektual muslim Indonesia menempatkannya sebagai sosok yang cukup populer dan menjadi guru yang memiliki magnet intelektual. Seperti Fazlur Rahman yang menarik minat Cak Nur atau Syafi’i Ma’arif untuk menjadikannya guru mereka, terdapat juga beberapa intelektual dari generasi yang lebih muda memilih Al-Attas sebagai pembimbing intelektual.
Kebanyakan dari mereka menimba ilmu dari kedalaman intelektual Al-Attas di ISTAC, Malaysia. Nama seperti Hamid Fahmy Zarkasyi atau Syamduddin Arif yang kini sudah menjadi guru besar adalah dua di antara beberapa murid Al-Attas di Indonesia. Secara institusional lembaga kajian Islam semacam Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) di Jakarta cukup konsisten mengkaji gagasan-gagasan Al-Attas dan memelihara nafas gagasan tersebut tetap panjang di tengah wacana Islam tanah air.
Kepergian Al-Attas pada Ramadhan lalu, meninggalkan kekosongan dalam ruang intelektual kajian Islam di Asia Tenggara. Puluhan buku dan berbagai karya pemikiran yang ditulis selama masa hidupnya tentu menjadi warisan berharga bagi ingatan dunia. Kehadiran sosok seperti Al-Attas yang dapat diterima dan gagasannya disambut antusias di Indonesia kini menjadi hal yang tidak mudah ditemui. Sedikit saja intelektual dari negeri tetangga yang dikenal luas oleh publik dalam negeri, mungkin begitu juga sebaliknya. Tetangga yang tumbuh dan hidup dalam konstruksi identitas yang banyak kesamaannya, namun saling membisu untuk saling mengenal dan bising kala gengsi beradu.
Gifari Juniatama adalah penulis lepas dan peneliti independen. Meminati kajian sosial, agama, dan budaya. Saat ini tinggal di Tangerang. Dapat dihubungi melalui akun instagram @gifarijuniatama atau akun facebook Gifari Juniatama.
Tokoh | 22.08.2020
Tokoh | 03.09.2020
Tokoh | 04.09.2020