Setiap sore di bulan Ramadhan, menjelang azan maghrib, kota-kota di Indonesia mengalami perubahan suasana yang sulit dijelaskan hanya sebagai aktivitas keagamaan biasa. Jalanan menjadi lebih ramai, lapak takjil bermunculan, orang berjalan santai tanpa tergesa, dan ruang publik tiba-tiba terasa lebih akrab. Fenomena ini dikenal sebagai ngabuburit.
Banyak orang menganggapnya sekadar kegiatan menunggu waktu berbuka, tetapi jika dilihat lebih dekat, ngabuburit sebenarnya memperlihatkan bagaimana religiusitas bekerja dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia hari ini.
Ritual Sosial
Dalam perspektif antropologi, praktik seperti ngabuburit dapat dipahami sebagai ritual sosial. Antropolog Victor Turner menjelaskan konsep liminality, yaitu fase peralihan ketika struktur sosial menjadi lebih cair dan hubungan antarindividu berubah sementara. Ngabuburit berada tepat dalam ruang peralihan itu: antara siang dan malam, antara lapar dan kenyang, antara aktivitas kerja dan ibadah.
Pada momen ini, batas sosial sehari-hari terasa melonggar. Pegawai kantor, pengemudi ojek daring, mahasiswa, dan pedagang berada dalam ritme pengalaman yang sama, berbagi waktu menunggu berbuka.
Menariknya, ngabuburit bukan ritual formal agama. Tidak ada aturan baku, tidak ada institusi yang mengatur, tetapi efek spiritual sosialnya terasa nyata. Orang yang tidak berpuasa pun ikut hadir dalam atmosfernya. Hal ini menunjukkan bahwa religiusitas di Indonesia sering bekerja melalui kebudayaan, bukan hanya melalui institusi keagamaan.
Pemikiran antropolog Talal Asad membantu menjelaskan fenomena ini. Menurut Asad, agama tidak hanya soal keyakinan pribadi, melainkan praktik sosial yang dibentuk oleh kebiasaan, tubuh, dan sejarah. Puasa bukan sekadar niat spiritual, tetapi pengalaman yang dijalani secara fisik dan sosial.
Tubuh yang lapar, aktivitas berburu takjil, serta kebiasaan berbagi makanan menjadi bagian dari praktik religius itu sendiri. Membeli kolak untuk keluarga atau membawa gorengan tambahan bagi tetangga bukan sekadar tindakan konsumsi, tetapi ekspresi nilai keagamaan dalam bentuk sosial yang konkret.
Produksi Makna
Dalam kajian cultural studies, Stuart Hall menyebut budaya sebagai proses produksi makna yang terus berubah. Ngabuburit hari ini berbeda dengan beberapa dekade lalu. Jika dahulu identik dengan berkumpul di kampung atau masjid, kini ia juga hadir di pusat kuliner, taman kota, bahkan media sosial.
Banyak orang mendokumentasikan pengalaman berbuka melalui foto atau video yang kemudian dibagikan secara daring. Religiusitas tidak hanya dijalani, tetapi juga direpresentasikan. Identitas keagamaan menjadi bagian dari cara seseorang tampil di ruang publik digital.
Perubahan ini memperlihatkan religiusitas kontemporer yang bersifat adaptif. Ia tidak hilang karena modernitas, tetapi justru menemukan bentuk baru. Namun di saat yang sama, perubahan tersebut juga membawa logika konsumsi ke dalam praktik spiritual.
Sosiolog Zygmunt Bauman menggambarkan masyarakat modern sebagai masyarakat konsumsi, di mana pengalaman hidup sering diorganisasi melalui pilihan gaya hidup. Ngabuburit pun kadang berubah menjadi aktivitas wisata kuliner musiman. Mall mengadakan festival Ramadhan, merek dagang menggunakan simbol religius, dan ruang spiritual bercampur dengan promosi ekonomi.
Meski demikian, pasar takjil tetap menunjukkan sesuatu yang berbeda dari ekonomi formal. Banyak transaksi berlangsung berdasarkan kepercayaan sosial. Pembeli menjadi pelanggan tetap, pedagang memberi tambahan makanan tanpa diminta, dan harga sering dijaga agar tetap terjangkau. Situasi ini mengingatkan pada konsep moral economy yang dijelaskan oleh E.P. Thompson dan James Scott, yaitu sistem ekonomi yang diatur oleh norma keadilan sosial komunitas, bukan semata logika keuntungan maksimal.
Di banyak tempat, pedagang takjil tidak memulai usaha melalui rencana bisnis rumit. Mereka mengandalkan jaringan sosial sekitar: tetangga, pelanggan lama, atau relasi keluarga. Ekonomi bekerja karena adanya kepercayaan.
Dalam istilah Karl Polanyi, aktivitas ekonomi seperti ini disebut embedded economy, yakni ekonomi yang melekat pada relasi sosial. Transaksi bukan hanya pertukaran uang, tetapi juga pertukaran kepercayaan dan kedekatan sosial.
Infrastruktur Sosial
Ngabuburit juga menciptakan bentuk ruang publik yang khas. Filsuf Jürgen Habermas melihat ruang publik modern sebagai arena diskusi rasional warga negara. Namun pengalaman Indonesia menunjukkan variasi lain, yaitu ruang publik religius yang informal.
Jalanan, taman kota, dan sudut kampung menjadi tempat interaksi sosial tanpa perlu forum resmi. Komunitas berbagi takjil gratis, kelompok anak muda melakukan kegiatan sosial, dan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal terlibat percakapan ringan menjelang berbuka.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa religiusitas dapat berfungsi sebagai infrastruktur sosial. Ia menciptakan rasa kebersamaan, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan pengalaman kolektif di tengah kehidupan kota yang sering anonim.
Antropolog Clifford Geertz menyebut agama sebagai sistem makna yang menjadi “model of” sekaligus “model for” kehidupan sosial. Dalam konteks ngabuburit, agama bukan hanya dipahami, tetapi menjadi pedoman praktik hidup sehari-hari.
Pertanyaan Reflektif
Namun solidaritas ini sering bersifat sementara. Setelah Ramadhan berakhir, lapak takjil menghilang, intensitas interaksi sosial menurun, dan ritme kota kembali individualistik.
Hal ini menimbulkan pertanyaan reflektif: apakah kebersamaan hanya mungkin muncul sebagai peristiwa musiman? Atau justru ngabuburit menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki kemampuan menciptakan ruang sosial egaliter secara spontan?
Pertanyaan ini penting bagi cara kita memahami religiusitas kontemporer Indonesia. Negara sering melihat agama melalui indikator formal seperti lembaga, regulasi, atau perayaan resmi. Padahal praktik sosial sehari-hari justru memperlihatkan bagaimana nilai keagamaan bekerja secara nyata dalam membangun kohesi sosial.
Ngabuburit menunjukkan bahwa religiusitas tidak selalu hadir dalam bentuk yang khusyuk dan sunyi. Ia bisa muncul di keramaian pasar, dalam antrean membeli es buah, atau dalam percakapan singkat antarorang asing yang menunggu adzan bersama. Di sana, iman tidak berdiri terpisah dari kehidupan sosial, melainkan menyatu dengan kebiasaan sehari-hari.
Barangkali pelajaran terpenting dari ngabuburit adalah bahwa religiusitas masyarakat Indonesia bukan terutama soal bagaimana orang berdoa sendirian, tetapi bagaimana mereka hidup bersama. Dan justru di ruang sosial yang tampak biasa itulah, agama bekerja paling nyata sebagai kekuatan yang merawat kebersamaan.