Beberapa hari yang lalu telah dilaksanakan Hari Raya Natal bagi umat Kristiani, perayaan dan rangkaian kegiatan akan berlangsung sampai acara tahun baru Masehi. Tidak hanya umat Kristen yang ikut memeriahkan dan memperingati hari raya tersebut, tetapi juga umat-umat yang lain, sebut saja salah satunya Islam. Sebagian umat Islam turut ikut mengucapkan dan sekaligus meneladani kisah-kisah perjuangan Nabi Isa. Pada sisi yang lain ada yang merasa bahagia dengan kedatangan libur nataru ini , diantaranya para “pegawai” dan anak sekolah, ikut libur panjang dan cuti bersama, kecuali MBG yang tidak ada hari liburnya.
Di seberang desa kecil Mertoyudan yang ada di kabupaten Magelang ada pemandangan yang sangat menyejukkan mata dan pikiran. Di sana ada budaya yang diwariskan secara turun temurun dari sejak “sesepuh” desa sampai sekarang masih tetap dilangggengkan, karena memang patut dilanggengkan. Kebudayaan tersebut mengajarkan tentang arti dan praktik tentang toleransi dan dialog antar agama.
Menurut keterangan dari salah seorang warga penduduk di sana yang saya temui setiap perayaan hari-hari besar mereka saling mengunjungi silaturahmi sebagai wujud dari hubungan persatuan dan penghormatan. Ketika natal tiba, umat Muslim mengunjungai umat Kristen dan sebaliknya, ketika Idul Fitri tiba umat Kristen mengunjungi umat Muslim.
Ia juga menjelaskan bahwa umat yang berbeda keyakinan turut bahagia dengan menyambut di depan tempat ibadahnya untuk menyalami sebagai wujud penghormatan dan toleransi yang membumi. Setelah itu, dilanjutkan acara silaturahmi dari rumah ke rumah lain umat Kristiani untuk mengucapkan selamat dan berbincang-bincang ringan sambil memakan hidangan yang disediakan oleh tuan rumah. Sebagaimana yang dilakukan oleh Muslim ketika lebaran tuan rumah menyiapkan suguhan untuk para tamu. Mereka juga memberikan data dari injil tentang pentingnya silaturahmi di hari raya.
Sebagaimana dalam Injil:
Markus 12:31
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”
Dalam momen hari raya, silaturahmi menjadi jembatan untuk menunjukkan kasih kepada tetangga dan keluarga. Sebagaimana dalam Islam silaturahmi sangat dianjurkan:
Dalam momen hari raya, silaturahmi menjadi jembatan untuk mempererat kasih sayang, memaafkan, dan menjaga hubungan dengan keluarga serta tetangga.
Di dalam Islam banyak dalil yang menjelaskan pentingnya menjaga persaudaraan sesama manusia dan juga menjaga hubungan baik dengan semua orang.
Hadis Nabi Saw: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan juga sabda Rasulullah Saw: “Sebarkanlah salam, sambunglah silaturahmi, dan berbuat baiklah kepada manusia.” (HR. Ahmad)
Dari dua sumber di atas menjelaskan betapa pentingnya menjaga persaudaraan baik sesama agama maupun berbeda agama, yaitu hubungan kemanusiaan, hablum minannas. Menjaga persatuan merupakan alat yang vital untuk diaplikasikan di era sekarang yang penuh dengan ketegangan-ketegangan.
Silaturahmi dan dialog menjadi wadah untuk meredakan dan menemukan win-win solution. Memelihara dan meningkatkan rasa kasih sayang sesama kerabat maupun sesama muslim maupun orang lain dapat diaplikasikan dengan sikap saling kenal-mengenal, hormat-menghormati, bertukar salam, kunjung-mengunjungi, surat-menyurat, bertukar hadiah, jenguk-menjenguk, bantu-membantu, dan bekerja sama menyelenggarakan walimahan, dan lain-lain.
Dari ayat tersebut juga dapat dipahami secara logika bahwa setiap manusia seharusnya hidup berdampingan dengan penuh kasih, karena Tuhan telah memberi masing-masing manusia sifat kasih sayang, namun di dalam realitanya pada masa sekarang adalah penuh dengan permusuhan, pertikaian, perselisihan, dan sifat-sifat tidak terpuji lainnya, hal itu mencerminkan betapa minimnya sifat kasih sayang pada masa sekarang ini. Sifat kasih sayang sebagai pemersatu berbagai perbedaan yang ditonjolkan.
Kasih sayang, dalam pengertian etisnya, bukanlah rasa kasihan atau sikap merendahkan: kasih sayang, secara harfiah, adalah 'menderita bersama'. Kasih sayang melibatkan pengakuan akan kerentanan bersama dan membiarkan diri sendiri terpengaruh oleh bahaya yang dialami orang lain guna membimbing tindakan. Bersimpati berarti berada di sisi seseorang yang menderita, bukan untuk mengambil tempat mereka atau menampilkan diri sebagai contoh moral; melainkan untuk menemani, tanpa mengambil alih, penderitaan yang bukan milik kita.
Yang menjadikan kita manusia bukanlah menaati aturan, melainkan menyadari kerapuhan kita bersama. Dalam kata-katanya, kondisi manusia adalah kerentanan, hasrat, dan penderitaan; oleh karena itu, etika harus peka terhadap mereka yang terpinggirkan dari martabat yang seharusnya. Belas kasih ditujukan kepada mereka yang dikucilkan, bukan terhadap mereka yang sudah terintegrasi sepenuhnya ke dalam kategori ‘kita’.
Oleh karena itu, kasih sayang tidak pernah bersifat paternalistis atau dramatis. Ini bukan tentang memberi pelajaran atau merasa baik, melainkan hadir tanpa mengganggu. Berdiri di sisi para penderita menyiratkan rasa hormat terhadap keunikan dan rasa sakit mereka, yang hanya mereka rasakan. Ini bukan perampasan penderitaan, tetapi keramahan terhadapnya.
Pada akhir kata, perjumpaan Islam dan Kristen dalam momen libur Natal dan Tahun Baru menunjukkan bahwa toleransi, silaturahmi, dan kasih sayang merupakan nilai universal yang dapat diwujudkan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat, sebagaimana tercermin dalam tradisi saling mengunjungi dan memberi salam antarumat beragama di Desa Mertoyudan.
Ajaran Islam dan Kristen sama-sama menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan kemanusiaan (hablumminannas), saling menghormati, dan membangun hubungan yang harmonis tanpa memandang perbedaan keyakinan. Di tengah realitas dunia yang kerap diwarnai konflik dan ketegangan, silaturahmi dan dialog lintas iman menjadi sarana penting untuk meredakan perbedaan, menumbuhkan empati, serta menemukan solusi bersama.
Kasih sayang dalam pengertian etis bukanlah sikap menggurui atau merendahkan, melainkan kesediaan untuk hadir, memahami kerentanan bersama, dan berdiri di sisi sesama manusia dengan penuh hormat, sehingga perjumpaan lintas agama tidak hanya menjadi simbol toleransi, tetapi juga fondasi nyata bagi persatuan, kedamaian, dan kehidupan bersama yang bermartabat.